Jakarta (Lensagram) – Demo mahasiswa Bundaran HI pada Rabu (28/10/2026) menarik perhatian publik. Dalam aksi “Indonesia Sadar”, mahasiswa membawa replika Salib Merah sebagai simbol penolakan terhadap perusakan hutan Papua dan ancaman bagi masyarakat adat.
Aksi ini berlangsung saat peringatan Hari Sumpah Pemuda. Mahasiswa dari sejumlah kampus turun ke jalan untuk menyampaikan tuntutan kepada pemerintah. Selain isu lingkungan, mereka juga menyoroti biaya pendidikan, hukum, ekonomi, dan kebebasan sipil.
Demo Mahasiswa Bundaran HI Bawa Replika Salib Merah
Salah satu momen yang menarik perhatian muncul saat perwakilan mahasiswa bernama Toga Irang maju ke barisan depan sambil memikul replika Salib Merah.
Melalui simbol itu, mahasiswa menyuarakan penolakan terhadap perusakan hutan demi kepentingan korporasi. Mereka juga mengingatkan pemerintah agar melindungi alam dan hak masyarakat adat.
Di sisi lain, mahasiswa membentangkan poster berukuran 3 x 6 meter di depan barikade polisi. Poster itu memuat pesan, “Hutan bukan milik oligarki, alam harus dilindungi, perusak harus diadili.”
Pesan ini menegaskan bahwa hutan bukan hanya sumber uang. Selain itu, hutan menjadi bagian penting dari hidup masyarakat adat dan kelestarian alam.
Mahasiswa Tolak Proyek yang Ancam Hutan Papua
Dalam aksi “Indonesia Sadar”, mahasiswa mendesak pemerintah menghentikan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua yang mereka nilai mengancam ruang hidup masyarakat adat.
Mereka menilai perlindungan hutan perlu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hak warga setempat. Karena itu, pemerintah perlu meninjau kebijakan yang berpotensi merusak lingkungan.
Mahasiswa dari sejumlah kampus turut mengikuti aksi ini. Di antaranya Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Universitas Diponegoro (Undip).
Namun, barikade polisi di depan Gedung Bank UOB menghalangi massa untuk mencapai area utama Bundaran HI. Meski begitu, mahasiswa tetap melanjutkan aksi dengan mengacungkan salam tiga jari dan meneriakkan kata “Revolusi”.
Lima Tuntutan Mahasiswa dalam Aksi Indonesia Sadar
Selain menyoroti kerusakan hutan, mahasiswa menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah. Tuntutan ini mencakup persoalan lingkungan, ekonomi, pendidikan, hukum, hingga hak asasi manusia.
Berikut lima tuntutan yang mereka suarakan:
Penanganan karhutla: Mahasiswa mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, mengadili korporasi yang bertanggung jawab, serta memperbaiki tata kelola lahan.
Anggaran untuk rakyat: Mereka meminta pemerintah memprioritaskan APBN untuk kepentingan rakyat dan menghentikan pemborosan anggaran yang dinilai berorientasi politik.
Pendidikan dan lapangan kerja: Mahasiswa menuntut biaya pendidikan yang lebih rendah, akses layanan dasar yang merata, dan lapangan kerja yang layak.
Penegakan hukum: Mereka mendesak pemerintah menghentikan penyalahgunaan hukum serta memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Kebebasan sipil: Mahasiswa meminta pemerintah memulihkan kebebasan berpendapat, mengadili pelanggar hak asasi manusia (HAM), dan menghentikan militerisasi di ruang sipil.
Simbol Salib Merah Soroti Nasib Masyarakat Adat
Replika Salib Merah kembali menarik perhatian pada isu kerusakan hutan Papua. Karena itu, aksi ini turut menyoroti nasib masyarakat adat. Mahasiswa ingin menunjukkan bahwa persoalan lingkungan juga berkaitan dengan hak masyarakat adat atas tanah dan sumber penghidupan mereka.
Melalui aksi ini, mahasiswa menyampaikan pesan agar pemerintah tidak mengabaikan dampak pembangunan terhadap alam dan warga setempat.
Melalui demo mahasiswa Bundaran HI, generasi muda menyampaikan kritik kepada pemerintah. Mereka berharap pemerintah menjaga alam, menegakkan keadilan, dan mengutamakan kepentingan rakyat.
Baca Juga: Indonesia-Singapura Akhirnya Bahas Karhutla! Ada Kesepakatan Apa?
![]()












