Jakarta (Lensagram) – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi masalah serius di Asia Tenggara. Kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia memicu kabut asap yang menyebar hingga negara tetangga. Dampaknya pun tidak hanya dirasakan warga Indonesia, tetapi juga masyarakat Malaysia, Singapura, dan wilayah lain di kawasan ini.
Kondisi ini membuat karhutla menjadi persoalan bersama ASEAN. Sebab, asap dapat bergerak mengikuti arah angin dan melintasi batas negara. Akibatnya, polusi udara bisa mengganggu kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga kegiatan ekonomi.
Selain itu, negara-negara ASEAN perlu memperkuat kerja sama untuk mengatasi masalah ini. Lalu, mengapa asap karhutla menjadi persoalan regional dan apa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasinya?
Asap Karhutla Menyebar hingga Negara Tetangga
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dapat menghasilkan asap tebal yang terbawa angin ke negara lain. Pada Oktober 2026, asap dari sejumlah titik kebakaran di Sumatra dan Kalimantan turut memengaruhi kualitas udara di kawasan Asia Tenggara.
Singapura mengalami penurunan kualitas udara akibat asap yang bergerak dari wilayah Sumatra dan Kalimantan. Sementara itu, sejumlah wilayah Malaysia juga menghadapi kabut asap hingga pihak berwenang menutup sekolah di beberapa daerah.
Dampak serupa juga muncul di Timor-Leste. Kondisi udara yang memburuk mendorong pemerintah setempat menghentikan sementara kegiatan belajar tatap muka selama beberapa hari.
Situasi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti di wilayah tempat api menyala. Sebaliknya, asap dapat menyebar jauh dan memengaruhi kehidupan masyarakat di negara lain.
Mengapa Karhutla Menjadi Masalah Bersama ASEAN?
Ada beberapa alasan yang membuat karhutla menjadi persoalan lintas negara.
1. Asap tidak mengenal batas negara
Angin dapat membawa asap dari satu wilayah ke wilayah lain. Karena itu, kebakaran di Indonesia bisa memengaruhi kualitas udara di Malaysia, Singapura, dan negara tetangga lainnya.
2. Mengancam kesehatan masyarakat
Kabut asap mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan polusi ini bisa memicu batuk, sesak napas, iritasi mata, dan memperburuk penyakit paru atau jantung.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis perlu mendapat perhatian lebih. Oleh sebab itu, negara yang terdampak perlu memberi peringatan kepada warga dan mengurangi paparan asap.
3. Mengganggu sekolah dan transportasi
Kabut asap dapat menurunkan jarak pandang dan mengganggu perjalanan darat maupun udara. Selain itu, kualitas udara yang buruk bisa memaksa sekolah menghentikan kegiatan tatap muka.
Akibatnya, aktivitas harian masyarakat ikut terganggu. Sektor usaha, pariwisata, dan layanan transportasi juga berisiko mengalami kerugian.
4. Membutuhkan kerja sama antarnegara
Indonesia memiliki tanggung jawab utama untuk menangani kebakaran di wilayahnya. Namun, dampak asap lintas batas juga membutuhkan dukungan negara tetangga.
Karena itu, ASEAN perlu memperkuat koordinasi, berbagi informasi cuaca dan titik api, serta menyusun langkah bersama untuk mengurangi polusi asap.
El Niño dan Lahan Gambut Memperburuk Risiko Karhutla
Cuaca kering menjadi salah satu faktor yang membuat kebakaran lebih mudah terjadi dan sulit padam. Pada 2026, kondisi El Niño meningkatkan risiko berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Asia Tenggara.
Ketika hujan jarang turun, vegetasi dan lahan menjadi lebih kering. Akibatnya, api lebih mudah menyebar dan petugas menghadapi tantangan lebih besar saat memadamkan kebakaran.
Selain itu, lahan gambut membutuhkan perhatian khusus. Api dapat merambat ke lapisan gambut di bawah permukaan tanah. Kebakaran seperti ini sulit dipadamkan karena bara dapat bertahan meski api tidak lagi terlihat di permukaan.
Oleh sebab itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Pemerintah juga perlu menjaga kelembapan lahan gambut, memulihkan kawasan yang rusak, dan mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar.
ASEAN Siapkan Pembahasan untuk Atasi Kabut Asap
Masalah asap lintas batas kembali masuk dalam agenda pembahasan ASEAN menjelang pertemuan tingkat kawasan pada November 2026. Para menteri luar negeri negara ASEAN dijadwalkan membahas langkah untuk menangani kabut asap yang berdampak pada sejumlah negara.
Pembahasan ini penting karena negara anggota perlu menyelaraskan langkah penanganan. Selain itu, negara yang terdampak membutuhkan informasi yang jelas dan koordinasi yang cepat saat kualitas udara memburuk.
Malaysia juga mendorong pembahasan masalah ini di tingkat ASEAN. Negara itu menilai mekanisme penanganan bencana yang ada perlu menjawab persoalan asap lintas batas secara lebih efektif.
Melalui kerja sama regional, negara anggota dapat memperkuat pemantauan titik api, pertukaran data, dukungan pemadaman, dan pencegahan kebakaran. Namun, langkah ini perlu berjalan bersama penegakan hukum terhadap pihak yang sengaja membakar lahan.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Selain pemerintah, masyarakat juga punya peran penting dalam mencegah karhutla. Warga dapat mulai dengan tidak membakar sampah atau membuka lahan menggunakan api, terutama saat cuaca kering.
Jika melihat titik api atau asap dari kawasan hutan dan lahan, segera laporkan kepada petugas setempat. Langkah cepat dapat membantu petugas mencegah api meluas.
Saat kabut asap muncul, masyarakat perlu memantau informasi kualitas udara. Kurangi aktivitas berat di luar ruangan ketika polusi meningkat. Gunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus jika harus keluar rumah, dan segera cari bantuan medis jika mengalami sesak napas atau keluhan berat.
Di sisi lain, pemerintah perlu menjaga hutan dan lahan gambut, memperkuat pengawasan, serta memberi sanksi kepada pelaku pembakaran. Dengan begitu, upaya pencegahan dapat berjalan lebih baik.
Karhutla Bukan Hanya Urusan Satu Negara
Asap karhutla menunjukkan bahwa masalah lingkungan dapat berdampak jauh melampaui lokasi kebakaran. Indonesia perlu terus memperkuat pencegahan dan pemadaman, sedangkan negara ASEAN perlu membangun kerja sama yang lebih erat untuk mengurangi dampak asap lintas batas.
Pada akhirnya, penanganan karhutla membutuhkan langkah nyata dari pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Kerja sama yang konsisten dapat membantu melindungi kesehatan warga, menjaga lingkungan, dan mengurangi risiko kabut asap di Asia Tenggara.
Baca Juga : Kasus Heat Stroke di Surabaya Meledak! Naik 3 Kali Lipat pada 2026, Apa Penyebabnya?
![]()












