Jakarta (Lensagram) — Pentagon mulai menyiapkan langkah baru untuk menghadapi perang masa depan. Amerika Serikat berencana membentuk Autonomous Warfare Command (AutoWarCom) yang fokus pada sistem otonom dan robotik.
Di saat yang sama, nama Elon Musk ikut mencuri perhatian. Namun, Musk tidak memimpin AutoWarCom. Ia justru mendapat peran dalam Project Meridian, proyek Pentagon yang mengkaji bentuk perang dan teknologi militer pada masa depan.
Langkah ini muncul saat Pentagon ingin mempercepat pengembangan drone, robot, kecerdasan buatan (AI), dan sistem tanpa awak. Karena itu, arah perang pada 2030, 2050, bahkan 2100 mulai masuk dalam kajian.
Pentagon Siapkan AutoWarCom
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan rencana pembentukan Autonomous Warfare Command pada 30 September 2026 di Marine Corps Base Quantico, Virginia.
Komando baru ini akan menjadi struktur komando tempur bintang empat. Fokusnya mencakup pengembangan dan penggunaan sistem otonom serta robotik di seluruh angkatan bersenjata AS.
Selain itu, Pentagon ingin mempercepat proses uji, pengembangan, dan penggunaan sistem tanpa awak di udara, laut, dan darat.
Rencana ini menunjukkan bahwa Pentagon ingin memperluas peran teknologi dalam operasi militer. Namun, pembentukan komando ini masih membutuhkan proses lebih lanjut, termasuk persetujuan Kongres. Target awalnya mengarah pada pembentukan pada 2027.
Lalu, Apa Peran Elon Musk?
Nama Elon Musk muncul lewat Project Meridian. Hegseth menunjuk Musk untuk ikut memimpin proyek ini bersama Palmer Luckey, pendiri Anduril Industries, dan Newt Gingrich, mantan Ketua DPR AS.
Project Meridian memiliki waktu sekitar 120 hari untuk mengkaji masa depan perang. Tim ini akan melihat teknologi dan kemampuan yang mungkin dibutuhkan militer AS dalam konflik mendatang.
Dengan demikian, peran Musk lebih tepat sebagai bagian dari tim kajian. Ia bukan pemimpin AutoWarCom.
Perang 2050 Masuk Dalam Kajian
Project Meridian tidak hanya membahas perang saat ini. Palmer Luckey mengatakan tim juga akan memikirkan konflik yang mungkin muncul pada 2030, 2050, dan 2100.
Karena itu, kajian ini akan melihat teknologi yang perlu AS bangun sejak sekarang. Robotika, AI, sistem otonom, senjata energi, dan teknologi lain masuk dalam ruang kajian.
Pentagon ingin mengetahui kemampuan apa yang perlu mereka kembangkan untuk menghadapi medan perang yang terus berubah. Dengan cara ini, pemerintah AS berharap dapat membuat rencana teknologi untuk kebutuhan militer jangka panjang.
Musk Punya Hubungan dengan Teknologi Robot
Keterlibatan Musk juga menarik karena Tesla tengah mengembangkan robot humanoid Optimus. Sementara itu, SpaceX milik Musk juga memiliki kerja sama dengan pemerintah AS dalam bidang peluncuran untuk misi keamanan nasional.
Namun, hubungan ini tidak berarti Tesla atau SpaceX akan memimpin AutoWarCom. Project Meridian dan AutoWarCom merupakan dua inisiatif yang berbeda.
Karena itu, penyebutan Musk sebagai calon pemimpin komando perang robot perlu dilihat secara hati-hati. Fakta yang ada saat ini menunjukkan Musk masuk dalam tim yang mengkaji masa depan perang, bukan sebagai komandan AutoWarCom.
Pentagon Kejar Teknologi Perang Masa Depan
Pentagon kini mendorong perubahan besar dalam penggunaan teknologi militer. Drone, robot, AI, dan sistem otonom menjadi bagian penting dari rencana itu.
Sementara itu, Project Meridian akan memberi gambaran tentang teknologi yang mungkin dibutuhkan dalam jangka panjang. Tim ini punya waktu 120 hari untuk menyusun hasil kajian.
Dengan dua langkah ini, Pentagon mulai menyusun arah baru untuk menghadapi perubahan teknologi perang. Tahun 2050 pun ikut masuk dalam pembahasan, meski kebutuhan dan bentuk perang masa depan masih sulit dipastikan.
Baca Juga : Tak Perlu Bolak-Balik! Pramono Ingin SIM dan Paspor Bisa Langsung Dicetak di MPP
![]()












