Jakarta (Lensagram) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Selain memicu kabut asap, karhutla juga dapat meningkatkan risiko paparan partikel beracun, termasuk timbal, di udara. Karena itu, masyarakat perlu waspada, terutama saat musim kemarau dan ketika kualitas udara memburuk.
Timbal merupakan logam berat yang dapat membahayakan tubuh. Paparan zat ini bisa terjadi saat seseorang menghirup debu atau partikel yang mengandung timbal. Risiko ini perlu mendapat perhatian lebih, khususnya di wilayah yang memiliki riwayat pencemaran tanah oleh logam berat.
Asap Karhutla Bisa Sebarkan Partikel Timbal
Karhutla menghasilkan asap, abu, dan partikel halus yang dapat menyebar mengikuti arah angin. Selain itu, tanah yang kering lebih mudah melepaskan debu ke udara. Jika tanah mengandung timbal akibat pencemaran sebelumnya, angin dan aktivitas kebakaran dapat membantu menyebarkan partikel itu ke lingkungan sekitar.
Guru Besar Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. dr. Muchtaruddin Mansyur, M.S., Sp.OK., Ph.D., menjelaskan bahwa kondisi kemarau dapat meningkatkan penyebaran debu yang mengandung timbal.
Dalam laporan Qoo Media pada 26 Oktober 2026, ia juga menyoroti risiko paparan ganda dari timbal dan zat berbahaya dalam asap karhutla. Kombinasi ini perlu mendapat perhatian karena partikel halus dapat masuk ke saluran pernapasan.
Meski demikian, tidak semua asap karhutla mengandung timbal dalam kadar yang sama. Tingkat risiko bergantung pada sumber pencemaran, bahan yang terbakar, serta kondisi lingkungan di sekitar lokasi kebakaran.
Apa Bahaya Timbal bagi Kesehatan?
Timbal dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh. Paparan dalam jumlah tinggi dapat menimbulkan dampak serius. Sementara itu, paparan dalam jumlah kecil secara berulang juga dapat membahayakan kesehatan, terutama pada anak-anak.
Berikut beberapa risiko paparan timbal yang perlu masyarakat ketahui:
Mengganggu perkembangan otak anak. Paparan timbal dapat memengaruhi kemampuan belajar, perilaku, dan perkembangan sistem saraf.
Merusak fungsi organ tubuh. Timbal dapat mengganggu kerja ginjal dan sistem saraf.
Memicu gangguan darah. Paparan timbal dapat menghambat pembentukan hemoglobin dan meningkatkan risiko anemia.
Meningkatkan risiko pada ibu hamil. Timbal dapat melewati plasenta dan memengaruhi perkembangan janin.
Selain timbal, asap karhutla juga mengandung partikel halus PM2.5 dan berbagai zat hasil pembakaran. Partikel ini dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memperburuk gangguan pernapasan.
Oleh sebab itu, masyarakat perlu melindungi diri dari asap sekaligus mengurangi kontak dengan debu dan abu di sekitar area kebakaran.
Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada
Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang yang memiliki gangguan jantung atau paru-paru perlu memberi perhatian khusus saat karhutla terjadi.
Anak-anak lebih rentan karena organ tubuh mereka masih berkembang. Selain itu, mereka cenderung bernapas lebih cepat daripada orang dewasa. Akibatnya, mereka bisa menghirup lebih banyak polutan jika berada di lingkungan dengan kualitas udara yang sama.
Petugas pemadam kebakaran dan warga yang tinggal dekat lokasi karhutla juga menghadapi risiko paparan lebih tinggi. Karena itu, mereka perlu mengikuti panduan keselamatan dan menggunakan alat pelindung yang sesuai.
Cara Melindungi Diri dari Asap dan Debu Karhutla
Masyarakat dapat mengambil beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko paparan asap dan debu.
1. Pantau kualitas udara setiap hari
Periksa informasi kualitas udara dan peringatan resmi dari instansi terkait. Jika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas di luar rumah.
2. Gunakan masker yang sesuai
Saat harus keluar rumah di tengah kabut asap, gunakan respirator seperti N95 yang terpasang rapat di wajah. Masker ini membantu menyaring partikel halus, tetapi tidak menghilangkan semua jenis gas berbahaya.
3. Tutup pintu dan jendela
Saat asap masuk ke lingkungan tempat tinggal, tutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya polutan. Jika memungkinkan, gunakan alat penyaring udara yang sesuai.
4. Hindari kontak langsung dengan abu
Jangan menyapu abu kering karena tindakan ini dapat membuat partikel kembali beterbangan. Gunakan metode pembersihan yang mengurangi debu dan ikuti arahan petugas jika abu diduga mengandung bahan beracun.
5. Lindungi anak-anak dan ibu hamil
Batasi kegiatan luar ruang saat kualitas udara memburuk. Selain itu, jauhkan anak-anak dari lokasi kebakaran, tumpukan abu, dan tanah yang tercemar.
6. Segera cari bantuan medis jika muncul gejala berat
Jika mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gangguan kesehatan serius setelah terpapar asap, segera cari pertolongan medis. Perlu diingat, paparan timbal tidak selalu menimbulkan gejala langsung. Pemeriksaan medis dapat membantu menilai risiko paparan jika ada dugaan kontak dengan sumber timbal.
Pemerintah Perlu Perkuat Pengawasan Lingkungan
Penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Pemerintah juga perlu memantau kualitas udara, mengidentifikasi sumber pencemaran, serta memeriksa potensi logam berat di wilayah yang rawan kebakaran.
Selain itu, petugas kesehatan perlu menyampaikan informasi yang mudah dipahami masyarakat. Dengan begitu, warga dapat mengambil langkah perlindungan yang tepat selama kabut asap melanda.
Pengawasan terhadap tanah dan abu juga penting, terutama di area yang memiliki riwayat pencemaran industri atau limbah. Langkah ini membantu petugas menilai apakah partikel timbal berpotensi menyebar ke permukiman.
Kesimpulan
Asap karhutla bukan sekadar gangguan jarak pandang. Asap, abu, dan debu juga dapat membawa partikel berbahaya ke lingkungan sekitar. Di wilayah dengan tanah yang tercemar timbal, kondisi kering dan kebakaran dapat meningkatkan risiko penyebaran partikel logam berat ke udara.
Karena itu, masyarakat perlu memantau kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruang saat asap menebal, serta menghindari kontak langsung dengan abu. Pada saat yang sama, pemerintah perlu memperkuat pengawasan lingkungan dan perlindungan kesehatan warga.
Baca Juga: Pasokan BBM Jadi Perhatian, Ini Langkah Pertamina Menjaga Kebutuhan Masyarakat
![]()












