Jakarta (Lensagram) – Fenomena Urban Heat Island Jakarta menjadi sorotan saat cuaca panas terasa pada siang hari dan gerah pada malam hari. Terik matahari membuat warga kurang nyaman saat beraktivitas di luar ruang. Bahkan, udara malam pun masih terasa panas meski matahari sudah terbenam.
Lalu, benarkah urban heat island menjadi penyebab Jakarta makin gerah? Ada beberapa faktor yang perlu kita pahami. Posisi matahari, kondisi iklim, dan lingkungan kota sama-sama memengaruhi suhu.
Mengapa Urban Heat Island Jakarta Terasa Panas pada Siang Hari?
Pada Oktober, posisi matahari berada hampir tepat di atas wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Pulau Jawa. Kondisi ini membuat permukaan bumi menerima sinar matahari yang lebih kuat.
Menurut penjelasan BMKG yang dikutip Kompas.com pada 22 Oktober 2026, cuaca panas saat ini berkaitan dengan posisi matahari dan musim kemarau. Fenomena iklim seperti El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga dapat memengaruhi pembentukan awan hujan.
Saat awan berkurang, sinar matahari mencapai permukaan bumi dengan lebih leluasa. Akibatnya, suhu permukaan naik dan udara terasa lebih panas.
Namun, suhu udara bukan satu-satunya faktor yang membuat tubuh merasa gerah. Kelembapan udara, paparan sinar matahari, dan kondisi lingkungan juga memengaruhi rasa panas.
Meski begitu, cuaca panas tidak selalu berarti Jakarta sedang mengalami gelombang panas atau heatwave. BMKG menjelaskan bahwa gelombang panas memiliki kriteria khusus, termasuk kenaikan suhu yang jauh di atas kondisi normal selama beberapa hari berturut-turut.
Apa Itu Urban Heat Island Jakarta?
Urban heat island atau pulau panas kota merupakan fenomena ketika suhu kawasan perkotaan lebih tinggi daripada suhu wilayah di sekitarnya. Kondisi ini sering muncul di kawasan yang padat bangunan dan minim ruang hijau.
Jakarta memiliki banyak jalan aspal, gedung, dan atap beton. Bahan ini menyerap panas pada siang hari. Setelah matahari terbenam, bahan itu melepas panas secara perlahan. Akibatnya, udara di kawasan padat bangunan tetap panas hingga malam.
Selain itu, kendaraan, aktivitas industri, dan mesin pendingin menghasilkan panas. Jumlah pohon yang sedikit juga mengurangi area teduh. Padahal, pohon memberi keteduhan dan membantu mendinginkan udara.
Karena itu, urban heat island dapat menjelaskan mengapa sejumlah kawasan di Jakarta terasa lebih panas, terutama saat bangunan dan jalan mendominasi lingkungan.
Urban Heat Island Jakarta: Apa Penyebab Utamanya?
Urban heat island dapat membuat kawasan perkotaan terasa lebih panas. Namun, fenomena ini bukan satu-satunya penyebab cuaca panas di Jakarta.
BMKG mengaitkan cuaca panas pada Oktober dengan posisi matahari, musim kemarau, dan kondisi atmosfer yang menghambat pembentukan awan hujan. El Niño dan IOD positif juga dapat memengaruhi pola hujan di Indonesia.
Di sisi lain, tata kota ikut memengaruhi suhu setempat. Kawasan yang padat gedung dan minim pohon cenderung menyerap serta menyimpan panas lebih lama.
Karena itu, kita perlu melihat dua faktor utama. Kondisi atmosfer memengaruhi cuaca dalam wilayah yang luas. Sementara itu, bentuk kota, bahan bangunan, dan jumlah pohon dapat meningkatkan suhu di kawasan tertentu.
Suhu di seluruh Jakarta pun tidak selalu sama. Kepadatan bangunan, tutupan pohon, aliran angin, dan tutupan awan dapat membuat kondisi tiap kawasan berbeda.
Dengan demikian, urban heat island merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan saat membahas panas di Jakarta. Namun, kita tidak bisa menganggapnya sebagai satu-satunya penyebab tanpa melihat kondisi cuaca dan data suhu setempat.
Mengapa Urban Heat Island Jakarta Membuat Malam Tetap Gerah?
Banyak orang berharap udara menjadi lebih sejuk setelah matahari terbenam. Namun, kawasan perkotaan tidak langsung kehilangan panas saat malam tiba.
Aspal, beton, dan dinding gedung menyerap panas pada siang hari. Saat malam, bahan-bahan itu melepas panas secara perlahan ke lingkungan sekitar.
Selain itu, gedung yang rapat dapat menghambat aliran angin di beberapa kawasan. Akibatnya, udara panas bisa bertahan lebih lama.
Kondisi ini dapat memperkuat efek urban heat island. Dampaknya lebih terasa di kawasan padat yang minim pohon dan ruang hijau.
Kelembapan udara juga memengaruhi rasa gerah. Saat kelembapan tinggi, keringat lebih sulit menguap dari kulit. Tubuh pun terasa lebih panas, meski suhu udara tidak banyak berubah.
Jadi, udara malam yang gerah dapat muncul akibat gabungan panas yang tersimpan di lingkungan kota, kondisi angin, dan kelembapan udara.
BMKG dan BPBD DKI Lakukan Modifikasi Cuaca
Pada 21–25 Oktober 2026, BMKG bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Menurut siaran pers BMKG pada 24 Oktober 2026, operasi ini bertujuan membantu menekan polusi udara yang dapat mengganggu kegiatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
BMKG menjelaskan bahwa hujan berpotensi membantu membersihkan sebagian partikel pencemar dari atmosfer. Namun, hasilnya bergantung pada kondisi cuaca dan jenis pencemar yang ada di udara.
Operasi modifikasi cuaca bukan solusi tunggal untuk masalah polusi maupun suhu panas di Jakarta. Pemerintah tetap perlu mengendalikan emisi kendaraan, mengelola sumber pencemaran, dan memperbaiki kualitas lingkungan kota.
Warga juga dapat memantau informasi kualitas udara, termasuk kadar PM2.5, melalui aplikasi JAKI. Informasi ini membantu masyarakat mempertimbangkan aktivitas di luar rumah, terutama saat kualitas udara memburuk.
Cara Mengurangi Dampak Panas di Jakarta
Warga dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk menghadapi cuaca panas. Meski tidak langsung mengubah suhu kota, kebiasaan ini membantu menjaga kenyamanan dan kesehatan.
1. Minum air putih secara rutin
Minum air putih secara teratur agar tubuh tidak kekurangan cairan. Jangan menunggu sampai merasa sangat haus, terutama saat beraktivitas di luar ruang.
2. Hindari terik matahari
Kurangi aktivitas berat saat matahari terasa sangat terik. Jika harus keluar rumah, cari tempat teduh dan gunakan pelindung dari sinar matahari.
3. Pakai baju yang nyaman
Pilih pakaian yang ringan dan tidak terlalu ketat. Bahan yang nyaman membantu tubuh melepas panas saat cuaca terasa gerah.
4. Tanam dan rawat pohon
Pohon memberi keteduhan dan membantu menurunkan suhu di sekitarnya. Karena itu, warga dan pemerintah perlu menjaga pohon serta menambah ruang hijau di lingkungan permukiman.
5. Kurangi polusi udara
Gunakan angkutan umum jika memungkinkan. Warga juga dapat menghemat energi dan menghindari pembakaran sampah. Langkah ini membantu mengurangi sumber emisi yang mencemari udara.
6. Pantau cuaca dan kualitas udara
Cek informasi cuaca dari BMKG sebelum beraktivitas di luar rumah. Periksa juga kualitas udara melalui layanan resmi agar kamu dapat menyesuaikan kegiatan dengan kondisi lingkungan.
Jika kamu merasa pusing, mual, sangat lemas, atau mengalami gejala lain akibat panas, segera pindah ke tempat sejuk dan minum air jika kamu masih sadar penuh. Jika gejala berat atau tidak membaik, segera cari bantuan medis.
Solusi Jangka Panjang untuk Mengurangi Panas Jakarta
Cuaca panas di Jakarta bukan sekadar masalah kenyamanan. Panas yang berlangsung lama dapat mengganggu aktivitas warga dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang bekerja di luar ruangan.
Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan langkah jangka panjang untuk mengurangi panas perkotaan. Salah satunya dengan menambah ruang terbuka hijau dan menjaga pohon yang sudah ada.
Kota juga dapat mempertimbangkan bahan bangunan yang tidak mudah menyerap panas. Perencanaan kawasan perlu memberi ruang bagi aliran angin dan menyediakan tempat teduh yang mudah dijangkau warga.
Selain itu, pengendalian emisi kendaraan dan sumber polusi lain tetap penting. Langkah ini tidak hanya membantu menjaga kualitas udara, tetapi juga mendukung lingkungan kota yang lebih sehat.
Warga dapat ikut berperan melalui kebiasaan sederhana, seperti merawat tanaman, menghemat energi, dan menggunakan transportasi umum saat memungkinkan. Jika pemerintah dan masyarakat bergerak bersama, Jakarta memiliki peluang untuk mengurangi dampak panas perkotaan.
Kesimpulan: Benarkah Jakarta Terjebak Urban Heat Island?
Fenomena Urban Heat Island Jakarta dapat membantu menjelaskan mengapa sejumlah kawasan tetap panas hingga malam. Aspal, beton, bangunan padat, dan minimnya pohon membuat kota menyimpan panas lebih lama.
Namun, cuaca panas pada Oktober 2026 juga berkaitan dengan posisi matahari, musim kemarau, dan kondisi iklim. Karena itu, kita perlu melihat faktor alam dan kondisi perkotaan secara bersamaan.
Jakarta membutuhkan solusi yang menyentuh kedua sisi. Warga dapat menjaga kesehatan saat cuaca panas, sedangkan pemerintah perlu memperluas ruang hijau, memperbaiki tata kota, dan mengendalikan polusi.
Dengan langkah yang konsisten, Jakarta dapat mengurangi dampak panas dan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi warganya.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, BI Akhirnya Buka Suara! Ini yang Perlu Diketahui
![]()












