Jakarta (Lensagram) – Rupiah masih tertekan pada Oktober 2026. Gejolak pasar dunia ikut memicu rasa khawatir investor. Menanggapi hal ini, Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa tekanan rupiah masih bisa dikelola.
Pada Jumat, 23 Oktober 2026, BI memberi penjelasan soal kondisi rupiah. Selain itu, BI terus memantau pasar dan menjaga nilai tukar agar tetap stabil.
Lantas, apa penyebab rupiah melemah? Apa langkah BI untuk menjaga kurs? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
1. Rupiah Tertekan Usai Kabar MSCI
Salah satu pemicu gejolak pasar ialah kabar dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 15 Oktober 2026.
MSCI mengusulkan perubahan status pasar modal Indonesia. Dari emerging market atau pasar berkembang, Indonesia berpotensi masuk ke kategori standalone market atau pasar mandiri.
Kabar ini memicu rasa khawatir di kalangan investor. Akibatnya, pasar saham dalam negeri ikut tertekan.
Pada Jumat, 16 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 11,57 persen. Pada hari yang sama, kurs rupiah menurut Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencapai Rp18.052 per dolar AS.
Meski begitu, BI menilai tekanan pada rupiah masih dapat dikelola. BI juga terus memantau pasar agar gejolak ini tidak mengganggu ekonomi nasional.
2. BI Sebut Rupiah Masih Terkendali
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan bahwa tekanan rupiah masih dapat dikelola.
Menurut BI, pelaku pasar mulai merespons kabar MSCI. Namun, BI tetap mewaspadai risiko arus modal keluar atau capital outflow.
Arus modal keluar terjadi saat investor menarik dana dari suatu negara. Jika hal ini terus terjadi, permintaan dolar AS bisa naik. Akibatnya, rupiah dapat kembali tertekan.
Oleh sebab itu, BI terus menjaga likuiditas rupiah. Langkah ini membantu pasar keuangan tetap berjalan lancar.
Selain itu, BI siap masuk ke pasar valas jika tekanan rupiah meningkat tajam. Langkah ini bertujuan menjaga agar kurs tidak bergerak terlalu cepat.
3. Ini Langkah BI untuk Jaga Rupiah
BI memiliki sejumlah cara untuk menjaga nilai rupiah. Langkah ini juga bertujuan menjaga kepercayaan investor di tengah gejolak pasar global.
Berikut beberapa upaya BI:
Menjaga likuiditas rupiah. BI memastikan dana rupiah tetap cukup agar transaksi pasar berjalan lancar.
Menjaga kurs lewat pasar valas. BI dapat membeli atau menjual valuta asing untuk meredam tekanan pada rupiah.
Memperkuat instrumen lindung nilai. BI mendorong penggunaan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk membantu pelaku pasar mengelola risiko kurs.
Memantau arus modal asing. BI mengawasi aliran dana investor di pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Dengan langkah ini, BI berupaya menjaga pasar keuangan agar tetap stabil. Selain itu, BI terus mencermati perubahan kondisi global.
4. Bagaimana Kebijakan Suku Bunga BI?
Suku bunga juga punya peran penting dalam menjaga rupiah. Karena itu, pelaku pasar turut mencermati keputusan BI soal suku bunga acuan.
Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026, BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Sementara itu, suku bunga lending facility tetap sebesar 6,50 persen.
Di sisi lain, BI menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen.
Melalui kebijakan ini, BI berupaya menjaga nilai rupiah dan mendukung ekonomi nasional. Dengan demikian, BI perlu menyeimbangkan stabilitas kurs dan pertumbuhan ekonomi.
5. Apa Dampak Rupiah Melemah bagi Warga?
Rupiah yang melemah dapat memengaruhi harga barang dan biaya usaha. Namun, dampaknya tidak selalu muncul secara langsung.
Berikut beberapa hal yang perlu kamu pahami.
Harga Barang Impor Bisa Naik
Saat dolar AS menguat, biaya untuk membeli barang dari luar negeri bisa naik. Kondisi ini dapat memengaruhi harga ponsel, komputer, dan barang lain yang berasal dari luar negeri.
Selain itu, pabrik yang memakai bahan baku impor juga bisa menghadapi biaya lebih tinggi.
Biaya Usaha Bisa Bertambah
Pelaku usaha yang membeli bahan baku dari luar negeri perlu mencermati perubahan kurs. Sebab, kenaikan biaya impor dapat menekan keuntungan usaha.
Jika biaya terus naik, pelaku usaha mungkin perlu menyesuaikan harga jual. Namun, keputusan ini juga bergantung pada kondisi pasar dan daya beli konsumen.
Harga Pangan dan Energi Perlu Dipantau
Indonesia masih mengimpor sejumlah bahan pangan dan sumber energi. Karena itu, pelemahan rupiah dapat menambah biaya impor komoditas tertentu.
Meski begitu, harga barang tidak hanya bergantung pada kurs. Pasokan, biaya angkut, dan kebijakan pemerintah juga ikut memengaruhi harga di pasar.
6. Apa yang Perlu Dilakukan Masyarakat?
Saat rupiah tertekan, masyarakat tidak perlu panik. Sebaliknya, kita bisa mengambil langkah sederhana untuk menjaga keuangan.
Pertama, susun anggaran bulanan dengan jelas. Utamakan kebutuhan pokok dan kurangi belanja yang tidak mendesak.
Kedua, jangan terburu-buru mengambil keputusan investasi. Periksa data dan pahami risiko sebelum menaruh uang pada suatu produk keuangan.
Selain itu, pilih sumber berita yang tepercaya. Jangan langsung percaya pada kabar yang belum jelas kebenarannya.
Bagi pelaku usaha, pantau biaya bahan baku dan hitung kebutuhan modal. Jika usaha bergantung pada barang impor, siapkan rencana untuk menghadapi perubahan kurs.
Dengan cara ini, rumah tangga dan pelaku usaha dapat mengelola risiko dengan lebih baik.
7. Bagaimana Prospek Rupiah ke Depan?
Arah rupiah bergantung pada banyak faktor. Salah satunya ialah kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Faktor lain mencakup konflik global, arus modal asing, dan minat investor terhadap dolar AS.
Dari dalam negeri, inflasi dan pertumbuhan ekonomi juga berperan penting. Selain itu, kebijakan BI dapat memengaruhi kepercayaan pasar terhadap rupiah.
BI akan terus memantau pasar dan menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, perubahan kondisi global masih dapat memicu gejolak baru.
Oleh karena itu, masyarakat perlu mengikuti data kurs dan pengumuman resmi BI. Jangan menilai kondisi ekonomi hanya dari perubahan kurs dalam satu atau dua hari.
Kesimpulan
Rupiah tertekan pada Oktober 2026 di tengah gejolak pasar keuangan. Kabar tentang usulan perubahan status pasar modal Indonesia oleh MSCI turut memicu kekhawatiran investor.
Menanggapi kondisi ini, BI menegaskan bahwa tekanan rupiah masih dapat dikelola. BI juga menjaga likuiditas, memantau arus modal asing, dan menyiapkan langkah untuk meredam gejolak kurs.
Sementara itu, masyarakat perlu mencermati dampak perubahan nilai tukar terhadap harga barang dan biaya usaha. Langkah terbaik ialah mengatur anggaran, memeriksa informasi, dan mengambil keputusan keuangan secara cermat.
Baca Juga: Bukan Pemadaman Biasa! TNI dan BNPB Kerahkan OMC untuk Atasi Karhutla di Papua
![]()










