Jakarta (Lensagram) – Karhutla Kalimantan dan Sumatera mulai mendapat harapan baru setelah hujan turun di sejumlah wilayah. Hujan ini dapat membantu petugas memadamkan api dan mengurangi kondisi lahan yang kering. Namun, apakah hujan mampu meredakan kebakaran hutan dan lahan secara menyeluruh?
Hujan Mulai Bantu Redakan Karhutla Kalimantan dan Sumatera
Hujan menjadi salah satu faktor penting dalam upaya mengatasi karhutla. Air hujan dapat membasahi tanah, mengurangi kondisi kering, dan membantu petugas memadamkan api.
Kementerian Kehutanan melaporkan hujan turun di sejumlah wilayah pada Minggu, 25 Oktober 2026. Di Sumatera Selatan, hujan membasahi kawasan sekitar kantor Daops Manggala Agni di Ogan Komering Ilir.
Di Kalimantan Tengah, hujan turun di Camp Leakey dan Sungai Buluh Besar, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Sementara itu, Kalimantan Selatan juga menerima hujan di kawasan Trans Gunung Kupang, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru, serta area sekitar bandara.
Kondisi ini memberi harapan bagi warga dan petugas yang berjuang mengatasi kebakaran. Meski demikian, dampak hujan bisa berbeda di setiap lokasi. Hujan dengan intensitas rendah belum tentu mampu membasahi seluruh lapisan tanah yang kering, terutama di kawasan gambut.
BMKG Kerahkan 15 Pesawat untuk Atasi Karhutla Kalimantan dan Sumatera
Di tengah upaya penanganan kebakaran, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat operasi modifikasi cuaca (OMC).
Pada 26 Oktober 2026, BMKG menyampaikan bahwa 15 pesawat mendukung operasi ini di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan. Sebanyak sembilan pesawat beroperasi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Sementara itu, enam pesawat mendukung operasi di Sumatera Selatan.
Tim menggunakan operasi modifikasi cuaca untuk membantu memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah sasaran. Mereka juga memanfaatkan bahan semai, seperti es kering atau dry ice dan natrium klorida (NaCl), sesuai kebutuhan operasi.
BMKG berharap kondisi atmosfer pada pekan ini mendukung pembentukan awan hujan. Dengan begitu, hujan dapat membantu petugas mengurangi dampak kebakaran, khususnya di wilayah yang masih menghadapi karhutla.
Namun, operasi ini tetap bergantung pada kondisi atmosfer. Karena itu, masyarakat perlu menunggu perkembangan cuaca dan hasil pemantauan lapangan sebelum menyimpulkan bahwa ancaman kebakaran sudah berakhir.
BMKG Prediksi Hujan Berlanjut hingga Awal November
Prakiraan cuaca BMKG untuk periode 27 Oktober hingga 2 November 2026 memberi harapan bagi sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan.
BMKG memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di banyak wilayah. Pada periode 27–29 Oktober, sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan masuk dalam wilayah yang perlu mewaspadai hujan sedang hingga lebat.
Sumatera Selatan juga masuk dalam wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat pada periode tersebut. Kondisi ini dapat membantu pembasahan lahan, tetapi warga tetap perlu mewaspadai petir, angin kencang, genangan, dan longsor.
Selanjutnya, pada periode 30 Oktober hingga 2 November, potensi hujan masih mencakup sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera. Meski begitu, prakiraan ini tidak berarti semua daerah akan menerima hujan dengan jumlah dan durasi yang sama.
Oleh sebab itu, masyarakat sebaiknya memantau pembaruan cuaca dari BMKG. Informasi ini juga penting bagi petugas agar mereka dapat menyesuaikan strategi pemadaman dengan kondisi di lapangan.
Mengapa Hujan Belum Tentu Memadamkan Semua Api?
Hujan memang membantu mengurangi risiko kebakaran, tetapi air yang turun dari langit tidak selalu mampu memadamkan semua titik api. Faktor durasi hujan, intensitas air, kondisi tanah, dan jenis lahan ikut menentukan hasilnya.
Kawasan gambut menjadi salah satu tantangan terbesar. Api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan menyisakan bara meski bagian atas lahan tampak basah. Bara ini berpotensi memicu kebakaran kembali saat kondisi mengering.
Karena itu, petugas tetap perlu menyisir area yang terbakar, menyiram titik panas, dan memantau lokasi rawan. Mereka juga harus memastikan api tidak menyebar ke kawasan hutan, kebun, atau permukiman warga.
Selain itu, penurunan jumlah titik panas pada citra satelit tidak selalu berarti seluruh kebakaran telah selesai. Petugas perlu memeriksa kondisi nyata di lapangan untuk memastikan keamanan wilayah.
Warga Tetap Perlu Waspada terhadap Karhutla
Turunnya hujan dan berkurangnya titik panas membawa kabar baik bagi Kalimantan dan Sumatera. Namun, warga tetap perlu menjaga lingkungan dan menghindari kegiatan yang dapat memicu kebakaran.
Masyarakat sebaiknya tidak membakar sampah, membuka lahan dengan api, atau membuang puntung rokok di area kering. Jika warga melihat asap atau api di kawasan hutan dan lahan, segera laporkan kepada petugas setempat.
Di sisi lain, warga yang tinggal di daerah terdampak asap perlu mengurangi aktivitas luar ruang saat kualitas udara memburuk. Gunakan masker yang sesuai saat harus keluar rumah dan ikuti arahan petugas kesehatan setempat.
Kerja sama warga, pemerintah daerah, petugas pemadam, BMKG, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sangat penting untuk menekan risiko kebakaran.
Kesimpulan: Hujan Membawa Harapan, tetapi Karhutla Belum Usai
Hujan yang mulai turun di Kalimantan dan Sumatera menjadi perkembangan positif dalam penanganan karhutla. Penurunan titik panas juga memberi harapan bahwa upaya pengendalian mulai menunjukkan hasil.
Meski demikian, masyarakat tidak boleh menganggap ancaman kebakaran sudah berakhir. Kondisi lahan gambut, bara di bawah tanah, dan cuaca yang dapat kembali kering masih menjadi tantangan bagi petugas.
Karena itu, tim pemadam perlu melanjutkan patroli, penyisiran, dan pemantauan. Sementara itu, masyarakat harus terus menjaga lingkungan dan mengikuti informasi resmi dari BMKG serta pemerintah daerah.
Hujan memang membawa harapan, tetapi pemantauan dan pemadaman tetap menjadi kunci untuk menekan karhutla di Kalimantan dan Sumatera.
Baca Juga: Jangan Sampai Ketinggalan! Kini Lokasi Rawan Bencana Bisa Dicek Secara Mandiri
![]()











