Jakarta (Lensagram) – Harga minyak dunia tembus US$108 per barel. Kenaikan ini terjadi saat pasar minyak global masih penuh risiko.
Harga minyak Brent sempat naik ke US$108,75 per barel. Pada saat yang sama, minyak WTI juga naik hingga lebih dari US$105 per barel.
Lalu, apa yang membuat harga minyak naik tajam?
Gangguan Pasokan Jadi Pemicu
Salah satu pemicu datang dari Arab Saudi. Gangguan pada jalur pipa minyak membuat pasar mulai cemas.
Pipa East-West punya peran besar bagi pasokan minyak Arab Saudi. Jalur ini membawa minyak dari ladang di timur menuju area ekspor di barat.
Karena itu, gangguan pada pipa bisa menghambat arus minyak. Pasar pun langsung melihat risiko pasokan baru.
Selain itu, konflik di Timur Tengah masih memberi tekanan. Pelaku pasar terus melihat kabar dari kawasan ini.
Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Cemas
Timur Tengah punya peran besar dalam pasar energi dunia. Banyak negara bergantung pada pasokan minyak dari kawasan ini.
Di sisi lain, jalur laut di Timur Tengah juga sangat penting. Kapal tanker memakai jalur ini untuk membawa minyak ke banyak negara.
Jika konflik meluas, arus kapal bisa ikut terganggu. Biaya kirim juga bisa naik.
Karena itu, pasar minyak sangat peka pada kabar dari Timur Tengah. Satu kabar baru saja bisa mengubah arah harga.
Arab Saudi Atur Ulang Aliran Minyak
Arab Saudi kini fokus menjaga arus minyak. Gangguan pada pipa membuat negara itu perlu mengatur jalur pasok.
Selain itu, kondisi di sejumlah pelabuhan juga masuk dalam pantauan pasar. Trader ingin melihat kapan arus minyak bisa kembali normal.
Jika gangguan terus terjadi, pasokan global bisa makin ketat. Kondisi ini dapat mendorong harga minyak naik lagi.
Namun, pasar juga melihat faktor lain. Salah satunya ialah data stok minyak Amerika Serikat.
Stok Minyak AS Jadi Perhatian
Data stok minyak AS punya peran penting bagi pasar. Trader memakai data ini untuk melihat kondisi pasok dan minat beli.
Saat stok naik, pasar bisa melihat pasokan yang lebih longgar. Sebaliknya, stok yang turun dapat menunjukkan minat beli yang kuat.
Karena itu, data stok AS sering memicu gerak harga. Harga minyak dapat berubah dalam waktu singkat setelah data keluar.
Pada 16 September 2026, harga minyak masih bergerak naik turun. Pasar masih mencari arah setelah harga Brent menembus US$108.
Harga Minyak Bisa Dorong Biaya Naik
Kenaikan harga minyak dapat memberi efek ke banyak sektor. Salah satunya ialah sektor angkut.
Saat harga minyak naik, biaya bahan bakar bisa ikut naik. Kondisi ini dapat menambah biaya kirim barang.
Selain itu, biaya usaha juga bisa naik. Banyak pabrik masih memakai minyak dan energi untuk proses kerja.
Jika biaya usaha naik, harga barang bisa ikut naik. Karena itu, harga minyak juga punya kaitan dengan inflasi.
Pasar Tunggu Arah Harga Berikutnya
Kini, pasar menunggu kabar soal pasokan minyak dari Timur Tengah. Kondisi pipa dan arus kapal akan jadi sorotan.
Selain itu, trader akan melihat data stok minyak AS. Data ekonomi dunia juga dapat memengaruhi minat beli minyak.
Jika pasokan masih seret, harga minyak bisa naik lagi. Namun, harga bisa turun jika arus minyak kembali lancar.
Untuk saat ini, harga minyak dunia masih berada di level tinggi. Pasar pun masih menanti perkembangan baru dari sisi pasokan dan permintaan.
Baca Juga : Media Asing Ramai Soroti Pergantian Menkeu RI! Purbaya Diganti Suahasil, Apa Kata Mereka?
![]()












