Jakarta (Lensagram) – Ketergantungan perdagangan Indonesia terhadap China terus menjadi perhatian para ekonom. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai hubungan dagang yang semakin besar dengan Negeri Tirai Bambu memang membuka peluang pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko apabila Indonesia terlalu bergantung pada satu negara mitra.
Data perdagangan menunjukkan bahwa China masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia, baik sebagai tujuan ekspor maupun sumber utama impor. Oleh karena itu, setiap perubahan kebijakan ekonomi di China berpotensi memberikan dampak langsung terhadap perekonomian Indonesia.
China Masih Jadi Mitra Dagang Utama Indonesia
Selama beberapa tahun terakhir, nilai perdagangan Indonesia dengan China terus meningkat. Peningkatan tersebut didorong oleh tingginya permintaan komoditas Indonesia, seperti batu bara, nikel, kelapa sawit, dan berbagai produk mineral lainnya.
Selain itu, Indonesia juga masih mengandalkan China sebagai pemasok berbagai bahan baku industri, mesin, peralatan elektronik, hingga barang konsumsi. Akibatnya, aktivitas industri nasional memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan kondisi ekonomi China. Meski hubungan tersebut memberikan manfaat bagi pertumbuhan perdagangan, ketergantungan yang terlalu besar dinilai dapat menimbulkan tantangan baru.
Indef Ingatkan Risiko Ketergantungan Terlalu Tinggi
Menurut Indef, ketergantungan terhadap satu negara tujuan ekspor maupun sumber impor dapat meningkatkan kerentanan ekonomi nasional. Misalnya, apabila terjadi perlambatan ekonomi di China, permintaan terhadap produk Indonesia berpotensi menurun.
Di sisi lain, jika terjadi gangguan rantai pasok atau perubahan kebijakan perdagangan dari pemerintah China, pasokan bahan baku bagi industri dalam negeri juga dapat terganggu. Karena itu, Indonesia perlu mengantisipasi berbagai risiko tersebut melalui strategi perdagangan yang lebih beragam.
Diversifikasi Pasar Jadi Langkah Penting
Para ekonom menyarankan pemerintah untuk memperluas pasar ekspor ke berbagai kawasan, seperti Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin. Dengan demikian, ketergantungan terhadap satu negara dapat dikurangi secara bertahap.
Selain memperluas pasar ekspor, pemerintah juga didorong untuk meningkatkan daya saing industri nasional. Langkah tersebut meliputi penguatan sektor manufaktur, peningkatan nilai tambah komoditas, serta pengembangan produk berteknologi tinggi. Selanjutnya, peningkatan kerja sama perdagangan dengan berbagai negara dinilai mampu membuka peluang baru bagi pelaku usaha Indonesia.
Peluang Tetap Besar Jika Dikelola dengan Baik
Meskipun terdapat risiko, hubungan perdagangan dengan China tetap memberikan manfaat yang signifikan bagi Indonesia. China merupakan pasar yang sangat besar dan memiliki kebutuhan tinggi terhadap berbagai komoditas unggulan Indonesia.
Oleh sebab itu, para ekonom menilai hubungan dagang tersebut tetap perlu dijaga. Namun, pemerintah juga harus memastikan bahwa strategi perdagangan nasional tidak hanya bergantung pada satu negara. Dengan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat memanfaatkan peluang perdagangan dengan China sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara lain.
Pemerintah Perlu Perkuat Ketahanan Ekonomi
Ke depan, pemerintah diharapkan terus mempercepat diversifikasi pasar ekspor, memperkuat industri dalam negeri, serta meningkatkan investasi di sektor manufaktur. Langkah tersebut diyakini mampu menciptakan struktur ekonomi yang lebih kuat dan tahan terhadap gejolak global.
Sementara itu, pelaku usaha juga diharapkan terus mencari pasar baru agar peluang ekspor semakin luas. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada satu negara, melainkan ditopang oleh jaringan perdagangan internasasional yang lebih beragam.
Pada akhirnya, keseimbangan antara memperkuat hubungan dagang dengan China dan memperluas pasar global akan menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di masa depan.
Baca Juga : Mengejutkan! Indef Sebut Mundurnya Perry Warjiyo dari BI Berpotensi Guncang Pasar, Investor Diminta Waspada
![]()










