Jakarta (Lensagram) – Banjir lahar Gunung Semeru menerjang Lumajang, Jawa Timur, pada Senin (2/11/2026). Bencana ini berdampak pada sekitar 500 warga. Selain itu, banjir juga merusak rumah dan jalan.
BPBD Lumajang melaporkan tiga kecamatan terdampak. Ketiga wilayah itu ialah Jatiroto, Tempursari, dan Pronojiwo.
Di Kecamatan Jatiroto, banjir melanda Desa Rojopolo. Air masuk ke rumah dan jalan warga. Tinggi air mencapai 20 hingga 60 sentimeter.
Selain itu, banjir merusak tiga rumah warga. Air dan arus deras membuat teras rumah ambruk. Sementara itu, 10 rumah lain masih terancam rusak.
Banjir Lahar Semeru Putus Jalan Warga
Bukan hanya merusak rumah, banjir juga memutus jalan di Kecamatan Tempursari. Jalan Purorejo–Tamansari Bawah putus sepanjang 100 meter.
Akibatnya, warga sulit melintas. Bahkan, jembatan penghubung Malang dan Lumajang juga tidak bisa dilalui.
Kendaraan roda dua dan roda empat tidak dapat melewati jembatan itu. Karena itu, warga harus mencari jalur lain untuk bepergian.
Selain jalan, banjir juga merusak tanggul di Desa Purorejo. Air sungai meluap hingga mendekati rumah warga. Kondisi ini membuat warga harus lebih waspada.
Hujan Deras Picu Banjir Lahar Semeru
Lalu, apa yang memicu banjir lahar ini? Hujan deras di kawasan Semeru menjadi pemicu utama. Hujan turun sejak Minggu malam (1/11/2026).
Akibat hujan itu, debit air sungai terus naik. Air lalu membawa pasir, batu, dan kayu dari lereng gunung.
Petugas pos pantau Semeru merekam getaran banjir pada Senin pukul 00.55 WIB. Alat pantau mencatat amplitudo paling tinggi sebesar 65 milimeter.
Selain itu, getaran banjir masih muncul hingga pukul 09.02 WIB. Hal ini membuat warga perlu waspada terhadap aliran lahar susulan.
BPBD Minta Warga Jauhi Sungai
Menanggapi kondisi ini, BPBD Lumajang meminta warga menjauhi sungai. Terutama saat hujan deras turun di kawasan hulu.
Selain itu, warga harus menghindari area rawan banjir lahar. Jangan mencari ikan atau beraktivitas di tepi sungai saat cuaca buruk.
Petugas juga meminta warga menjaga jarak dari aliran sungai. Jarak aman minimal 500 meter dari tepi sungai perlu dijaga saat kondisi rawan.
Karena itu, warga harus mengikuti arahan petugas. Jika hujan deras kembali turun, segera cari tempat yang lebih aman.
Petugas Pantau Dampak Banjir di Lumajang
Hingga Senin (2/11/2026), BPBD Lumajang masih memantau lokasi banjir. Petugas juga mendata rumah dan jalan yang rusak.
Selain itu, pemerintah daerah terus berkoordinasi untuk menangani dampak bencana. Petugas juga mengawasi aliran sungai di sekitar Gunung Semeru.
Dengan langkah ini, petugas berharap warga tetap aman. Masyarakat pun harus waspada jika hujan deras kembali mengguyur kawasan Semeru.
Baca Juga : Kasus Karhutla Seret Investor Asing, Siapa Sosok di Baliknya?
![]()












