Jakarta (Lensagram) – Rencana pembangunan data center AI di Jatiluhur kini jadi sorotan. Proyek ini hadir di Purwakarta, Jawa Barat. Selain nilai investasinya, banyak pihak ikut menyorot kebutuhan air untuk pusat data.
Pasalnya, data center memakai air untuk menjaga suhu mesin. Karena itu, muncul tanya besar. Benarkah data center AI bisa memicu kekeringan di Jatiluhur?
Data Center AI Hadir di Jatiluhur
BDx Data Centers berencana membangun AI Campus 2 atau CGK4 di kawasan Jatiluhur. Lokasi proyek berada di sekitar lima kilometer dari Waduk Jatiluhur.
Proyek ini membawa nilai investasi yang besar. BDx juga menargetkan kapasitas daya hingga 640 MW. Pada tahap awal, pusat data akan memakai kapasitas sekitar 120 MW.
Selain itu, BDx menargetkan tahap awal proyek mulai berjalan pada 2027. Kehadiran pusat data ini ikut mendorong perhatian pada kebutuhan air di kawasan Jatiluhur.
Kenapa Data Center Butuh Banyak Air?
Data center AI memakai banyak mesin untuk mengolah data. Mesin ini menghasilkan panas saat bekerja. Karena itu, pengelola perlu menjaga suhu ruang server agar tetap aman.
Salah satu cara yang umum ialah memakai sistem pendingin. Sistem ini bisa memakai air untuk membantu proses dingin.
Nah, kebutuhan air bisa naik saat kapasitas data center ikut naik. Pemprov Jawa Barat pun meminta pihak pengelola menghitung kebutuhan air dengan cermat.
Jika kebutuhan air mencapai sekitar 384 liter per detik, jumlahnya setara dengan sekitar 33 juta liter per hari. Angka ini tentu perlu mendapat perhatian, terutama saat musim kemarau.
Apakah Bisa Picu Kekeringan?
Kebutuhan air yang besar tidak langsung berarti data center akan memicu kekeringan. Namun, lokasi dan sumber air tetap perlu mendapat perhatian.
Jatiluhur punya peran penting bagi kebutuhan warga dan sektor pertanian. Waduk ini juga menjadi bagian dari sistem pengelolaan air di wilayah Jawa Barat.
Karena itu, pengelola perlu memastikan kebutuhan data center tidak mengganggu pasokan air bagi warga. Pemerintah juga perlu memantau pemakaian air dari waktu ke waktu.
Dengan cara ini, proyek bisa tetap berjalan tanpa memberi tekanan besar pada sumber air di sekitar Jatiluhur.
Pakar Soroti Dampak Data Center
Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Ridi Ferdiana, menilai pemakaian air data center perlu melihat skala dan lokasi proyek. Menurut dia, kebutuhan air untuk data center secara nasional masih jauh di bawah kebutuhan sektor pertanian.
Meski begitu, kondisi bisa berbeda pada satu wilayah. Jika banyak pusat data berada di satu area, kebutuhan air bisa ikut naik.
Sementara itu, Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, Agustino Zulys, pernah menyorot kebutuhan air pada pusat data berkapasitas besar. Pusat data dengan daya 100 MW bisa memakai air dalam jumlah besar untuk sistem pendingin.
Artinya, teknologi dan cara kelola air akan punya peran penting. Pengelola perlu memilih sistem yang hemat air sejak awal.
Teknologi Bisa Tekan Pemakaian Air
Pengelola data center kini punya sejumlah pilihan untuk mengurangi pemakaian air. Salah satunya ialah sistem pendingin dengan sirkulasi tertutup.
Sistem ini bisa memakai air secara berulang. Dengan begitu, pengelola tidak perlu terus mengambil air baru dalam jumlah besar.
Selain itu, pengelola bisa memakai teknologi liquid cooling. Teknologi ini memakai cairan untuk menyerap panas dari komponen server.
Teknologi seperti ini bisa membantu pusat data mengelola panas dengan lebih efisien. Namun, pengelola tetap perlu menyesuaikan teknologi dengan kondisi lokasi.
Pemerintah Perlu Pantau Sumber Air
Pemprov Jawa Barat juga perlu melihat dampak proyek dari sisi lingkungan. Salah satu langkah penting ialah memantau sumber dan jumlah air yang masuk ke sistem data center.
Selain itu, kajian AMDAL perlu memberi gambaran yang jelas soal kebutuhan air. Kajian ini juga perlu melihat dampak proyek saat musim hujan dan kemarau.
Pemerintah, pengelola data center, serta pihak yang mengurus sumber air perlu duduk bersama. Mereka bisa menyusun pola pasok air yang aman bagi proyek dan warga.
Dengan langkah ini, pembangunan data center dapat berjalan seiring dengan kebutuhan masyarakat.
Data Center AI Tidak Otomatis Picu Kekeringan
Jadi, data center AI di Jatiluhur tidak otomatis memicu kekeringan. Namun, proyek ini memang punya kebutuhan air yang perlu mendapat perhatian.
Kuncinya ada pada cara pengelola memakai air. Selain itu, pemerintah perlu memantau dampak proyek secara rutin.
Jika pengelola memakai teknologi hemat air dan pemerintah menjaga tata kelola sumber air, risiko tekanan pada pasokan air bisa lebih kecil.
Pada akhirnya, pembangunan data center AI bukan hanya soal daya listrik dan teknologi. Kebutuhan air juga harus masuk dalam rencana sejak awal.
Baca Juga : RUU Perampasan Aset Makin Disorot! Pakar Jelaskan Kenapa Illicit Enrichment Tak Perlu Diatur
![]()












