Jakarta (Lensagram) – Dunia teknologi kembali dibuat heboh. Perusahaan kecerdasan buatan (AI) dilaporkan membeli dalam jumlah besar, memindai, lalu menghancurkan buku fisik untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam pengembangan teknologi AI.
Praktik tersebut menjadi sorotan karena buku yang digunakan tidak selalu berupa terbitan baru. Sejumlah laporan menyebut perusahaan AI juga memburu buku lama, buku bekas, hingga buku yang sudah tidak banyak beredar.
Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan adalah Anthropic, pengembang AI Claude. Perusahaan tersebut dilaporkan menjalankan proyek yang dikenal sebagai Project Panama untuk memperoleh dan mendigitalisasi buku dalam jumlah besar.
Mengapa Jutaan Buku Harus Dihancurkan?
Pada dasarnya, tujuan utama praktik ini bukan untuk memusnahkan buku. Perusahaan AI membutuhkan isi buku sebagai sumber data untuk melatih model kecerdasan buatan. AI tidak bisa langsung membaca buku fisik seperti manusia. Karena itu, perusahaan perlu mengubah isi buku menjadi data digital terlebih dahulu.
Salah satu metode yang digunakan adalah pemindaian dengan kecepatan tinggi. Untuk mempercepat proses tersebut, buku dapat dilepas bagian jilidnya sehingga halaman lebih mudah dipindai secara otomatis.
Setelah seluruh halaman berhasil dipindai, salinan fisik tersebut kemudian tidak lagi diperlukan untuk proses pengolahan data. Karena itu, buku yang sudah diproses dapat dibuang atau didaur ulang.
AI Membutuhkan Data dalam Jumlah Besar
Perkembangan AI generatif membuat kebutuhan terhadap data berkualitas semakin besar. Model AI membutuhkan teks dalam jumlah sangat banyak agar mampu memahami bahasa, menyusun informasi, dan menghasilkan jawaban. Namun, perusahaan teknologi menghadapi tantangan baru. Tidak semua materi digital tersedia secara bebas dan dapat digunakan untuk melatih AI.
Karena itu, buku fisik menjadi salah satu sumber data yang menarik. Buku memiliki teks yang ditulis manusia dan telah melalui proses penyuntingan. Dengan demikian, perusahaan AI dapat memperoleh materi yang relatif berkualitas untuk pengembangan model mereka.
Selain itu, buku lama juga memiliki nilai tersendiri. Banyak buku yang belum tersedia dalam format digital sehingga perusahaan perlu memperoleh salinan fisiknya terlebih dahulu.
Buku Langka Ikut Menjadi Sorotan
Persoalan kemudian muncul ketika perusahaan AI mulai membeli buku lama dalam jumlah besar. Sejumlah laporan menyebut praktik tersebut berpotensi membuat buku yang sudah sulit ditemukan semakin sedikit di pasaran.
Kekhawatiran semakin besar apabila buku yang dihancurkan hanya memiliki sedikit salinan tersisa. Jika tidak ada salinan lain, informasi dalam buku tersebut berisiko semakin sulit diakses secara fisik.
Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua buku yang dibeli perusahaan AI merupakan buku langka atau bernilai tinggi. Laporan mengenai praktik ini juga menyebut adanya buku bekas dan buku yang sudah tidak dicetak lagi.
Bukan Sekadar Masalah Buku
Di sisi lain, praktik tersebut memunculkan perdebatan yang lebih luas. Masyarakat mulai mempertanyakan bagaimana perusahaan teknologi mendapatkan data untuk melatih AI. Selain masalah pelestarian buku, isu hak cipta juga ikut menjadi perhatian. Pasalnya, perusahaan AI harus memastikan materi yang digunakan memiliki dasar hukum yang jelas.
Kasus Anthropic sebelumnya juga berkaitan dengan penggunaan buku untuk melatih model AI. Dalam perkembangan hukum di Amerika Serikat, penggunaan buku yang diperoleh secara legal untuk melatih AI dinilai berbeda dengan penyimpanan koleksi buku bajakan. Karena itu, persoalan ini tidak bisa dilihat hanya dari tindakan menghancurkan buku. Ada pula aspek hukum, teknologi, hak cipta, serta pelestarian pengetahuan yang perlu diperhatikan.
Tujuannya untuk Membuat AI Lebih Pintar?
Pada akhirnya, tujuan utama perusahaan AI adalah memperoleh data berkualitas untuk melatih model mereka. Semakin beragam data yang tersedia, semakin besar pula peluang model AI memahami bahasa dan berbagai topik dengan lebih baik.
Namun, cara mendapatkan data tersebut tetap menjadi perhatian publik. Terlebih lagi, buku merupakan bagian dari rekam jejak pengetahuan manusia. Teknologi memang terus berkembang. Akan tetapi, proses pengembangannya tetap perlu mempertimbangkan nilai sejarah dan budaya dari sumber data yang digunakan.
Dengan demikian, fenomena jutaan buku yang dipindai lalu dihancurkan menjadi pengingat bahwa perkembangan AI tidak hanya menghadirkan peluang. Di saat yang sama, teknologi ini juga membawa pertanyaan besar tentang data, hak cipta, dan bagaimana manusia menjaga pengetahuan untuk generasi berikutnya.
Baca Juga : Pilkada Tanpa Wakil Bakal Langgar UUD? Ini Penjelasan Pakar yang Bikin Penasaran
![]()










