Jakarta (Lensagram) – Sebanyak 579 hotspot Sumsel terpantau pada Selasa, 20 Oktober 2026. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 286 titik. Meski jumlah hotspot harian menurun, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu mendapat perhatian.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel menunjukkan bahwa 343 dari 579 titik panas berada di lahan gambut. Sementara itu, 236 titik lainnya berada di lahan mineral.
Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, menjelaskan bahwa jumlah hotspot harian ini turun dari angka ribuan pada hari sebelumnya. Bahkan, jumlah ini menjadi yang terendah sepanjang Oktober 2026 hingga 20 Oktober.
579 Hotspot Sumsel, OKI Jadi Wilayah Terbanyak
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menempati posisi pertama dalam jumlah hotspot di Sumsel. Berdasarkan data BPBD, wilayah ini mencatat 286 titik panas.
Dari jumlah itu, sebanyak 213 titik berada di lahan gambut. Sementara itu, 73 titik lainnya berada di lahan mineral.
Selanjutnya, Kabupaten Banyuasin menempati posisi kedua dengan 146 titik panas. Rinciannya, 99 titik berada di lahan gambut dan 47 titik berada di lahan mineral.
Di sisi lain, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mencatat 66 titik panas. Sebanyak 9 titik berada di lahan gambut, sedangkan 57 titik lainnya berada di lahan mineral.
Data ini menunjukkan bahwa OKI dan Banyuasin menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih dalam upaya pengendalian karhutla di Sumsel.
Hotspot Sumsel di Lahan Gambut Masih Mendominasi
Lahan gambut menjadi lokasi dengan jumlah hotspot paling banyak di Sumsel. Dari total 579 titik panas, sebanyak 343 titik berada di lahan gambut atau sekitar 59 persen dari jumlah keseluruhan.
Sementara itu, lahan mineral mencatat 236 titik atau sekitar 41 persen.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian karena kebakaran di lahan gambut dapat memicu asap tebal dan menyulitkan proses pemadaman. Selain itu, api yang menjalar di bawah permukaan tanah dapat bertahan meski petugas sudah memadamkan api di permukaan.
Oleh karena itu, petugas perlu terus memantau titik panas, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut luas seperti OKI dan Banyuasin.
Jumlah Hotspot Sumsel pada Oktober 2026
Meski jumlah hotspot harian turun pada 20 Oktober, ancaman karhutla di Sumsel belum berakhir. Sebab, jumlah titik panas sepanjang Oktober masih menunjukkan angka yang tinggi.
BPBD Sumsel mencatat 35.909 titik panas selama periode 1–19 Oktober 2026. Kabupaten OKI menjadi penyumbang terbesar dengan 21.782 titik.
Selanjutnya, Kabupaten Musi Banyuasin mencatat 5.645 titik, disusul Banyuasin dengan 4.138 titik dan Muara Enim dengan 1.588 titik.
Jika melihat data sejak awal tahun, jumlah hotspot di Sumsel mencapai 85.016 titik selama periode 1 Januari–18 Oktober 2026. OKI kembali menempati posisi teratas dengan 38.728 titik.
Angka ini menunjukkan bahwa karhutla masih menjadi tantangan besar bagi Sumsel, terutama saat musim kemarau.
Upaya Mengurangi Risiko Karhutla di Sumsel
Peningkatan kewaspadaan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko karhutla di Sumsel. Pemerintah daerah dan petugas perlu memantau titik panas, terutama di kawasan gambut yang rawan terbakar.
Selain itu, masyarakat dapat membantu mencegah kebakaran dengan tidak membakar sampah atau membuka lahan menggunakan api. Warga juga perlu segera melapor kepada petugas jika melihat api atau asap di kawasan hutan, kebun, dan lahan kosong.
Langkah cepat dapat membantu petugas memeriksa lokasi dan mencegah api meluas. Karena itu, kerja sama antara pemerintah, petugas, dan masyarakat sangat penting untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Warga Diminta Waspada terhadap Karhutla di Sumsel
Masyarakat perlu ikut menjaga lingkungan untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan. Salah satu langkah penting ialah tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Selain itu, warga perlu menjaga kesehatan saat asap menyelimuti permukiman. Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan kurangi kegiatan di luar jika asap semakin pekat.
Warga juga perlu mengikuti imbauan petugas jika terjadi kebakaran di sekitar tempat tinggal. Dengan begitu, masyarakat dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat asap dan membantu petugas menangani kebakaran.
Melalui pemantauan rutin dan kerja sama semua pihak, upaya pengendalian karhutla di Sumsel diharapkan berjalan lebih efektif.
Baca Juga: Mendadak Muntah hingga Diare! Sejumlah Siswa di Cirebon Diduga Keracunan MBG
![]()











