Jakarta (Lensagram) – Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta meminta warga lebih hati-hati saat memakai obat. Warga juga perlu menghindari kebiasaan membeli obat sendiri tanpa saran tenaga medis.
Wakil Kepala Dinkes DKI Jakarta, Savitri Handayana, menyampaikan pesan ini pada Jumat, 25 September 2026. Ia hadir dalam acara World Pharmacists Day 2026 di Balai Kota DKI Jakarta.
Savitri menilai warga masih sering membeli obat saat muncul keluhan ringan. Misalnya, warga merasa pusing lalu membeli obat di warung. Ada juga warga yang langsung membeli obat saat diare.
Padahal, cara ini bisa membawa risiko. Karena itu, warga perlu lebih cermat sebelum minum obat.
Dinkes DKI Soroti Kebiasaan Minum Obat Sendiri
Savitri melihat masih ada warga yang ingin mendapat hasil cepat saat sakit. Mereka lalu membeli obat tanpa lebih dulu bertanya kepada tenaga medis.
Kebiasaan ini sering muncul saat warga mengalami pusing atau diare. Warga merasa keluhan itu ringan. Akhirnya, mereka memilih membeli obat sendiri.
Namun, cara ini tidak selalu aman. Jenis obat dan dosis harus sesuai dengan kondisi tubuh. Jika warga salah memilih obat, efeknya bisa merugikan kesehatan.
Karena itu, Dinkes DKI meminta warga tidak asal membeli obat. Warga dapat bertanya kepada dokter, apoteker, atau tenaga kesehatan lain sebelum memakai obat.
Pasien Cuci Darah Juga Datang dari Usia Muda
Selain soal obat, Savitri menyoroti kasus pasien yang menjalani cuci darah. Menurut dia, pasien cuci darah kini tidak hanya berasal dari kelompok usia tua.
Ia menyebut warga usia sekitar 20 tahun juga sudah ada yang menjalani cuci darah. Kondisi ini membuat warga perlu lebih peduli pada pola hidup dan cara memakai obat.
Meski begitu, warga perlu memahami satu hal. Pernyataan Dinkes soal risiko obat tidak berarti semua kasus gagal ginjal terjadi karena obat. Banyak faktor dapat memengaruhi kondisi ginjal.
Karena itu, warga tetap perlu mencari saran medis. Langkah ini dapat membantu warga memilih obat yang sesuai dan aman.
Jakarta Punya Banyak Tempat untuk Cek Kesehatan
Dinkes DKI juga mengingatkan warga bahwa Jakarta punya banyak fasilitas kesehatan. Jadi, warga tidak harus langsung membeli obat saat muncul keluhan.
Saat ini, Dinkes DKI mencatat ada 192 rumah sakit di Jakarta. Selain itu, ada 44 puskesmas kecamatan dan 292 puskesmas pembantu.
Pemprov DKI juga punya Pasukan Putih. Tim ini dapat datang ke rumah warga untuk memberi layanan kesehatan.
Dengan banyak pilihan ini, warga bisa lebih dulu bertanya soal keluhan yang mereka rasakan. Setelah itu, tenaga kesehatan dapat membantu menentukan langkah yang tepat.
Apoteker Punya Peran Penting
Dinkes DKI juga mendorong apoteker dan kader untuk aktif memberi edukasi. Mereka mendapat peran sebagai Agent of Change dalam acara World Pharmacists Day 2026.
Lewat peran ini, para kader dan apoteker dapat membantu warga memahami cara pakai obat yang benar. Mereka juga bisa mengingatkan warga agar tidak asal membeli obat.
Selain itu, edukasi bisa membantu warga mengenal batas aman saat memakai obat. Warga juga dapat tahu kapan harus datang ke fasilitas kesehatan.
Jangan Asal Beli Obat di Warung
Pesan Dinkes DKI cukup jelas. Warga jangan menjadikan warung sebagai pilihan utama setiap kali muncul keluhan.
Pusing ringan atau diare memang bisa terasa sepele. Namun, warga tetap perlu melihat kondisi tubuh lebih dulu. Jika keluhan terus muncul atau makin berat, segera cari bantuan tenaga kesehatan.
Selain itu, warga perlu membaca aturan pakai pada kemasan. Jangan menambah dosis hanya karena ingin cepat sembuh.
Warga juga sebaiknya tidak memakai obat milik orang lain. Setiap orang bisa punya kondisi tubuh dan kebutuhan obat yang berbeda.
Dengan cara ini, warga dapat lebih aman saat memakai obat. Jadi, jangan sedikit-sedikit membeli obat di warung. Lebih baik cari informasi yang tepat sebelum minum obat.
Baca Juga : Said Abdullah Buka Suara soal RUU Omnibus Law Keuangan, Kenapa Belum Dianggap Perlu?
![]()










