Jakarta (Lensagram) –
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya membawa asap. Kebakaran juga bisa mengubah kondisi tanah dan air di sekitar lokasi.
Riset terbaru menunjukkan kadar arsenik di sungai bisa naik setelah kebakaran hutan. Kondisi ini perlu mendapat perhatian. Sebab, paparan arsenik dalam waktu lama dapat mengganggu kesehatan.
Riset Ungkap Arsenik Bisa Naik Setelah Karhutla
Peneliti dari University of North Carolina mengkaji hubungan antara kebakaran hutan dan kadar arsenik di sumber air.
Tim peneliti menyaring 676 studi. Kemudian, mereka memilih 20 studi yang mengukur kadar arsenik dalam air. Sebagian besar studi berasal dari Kanada, Portugal, dan wilayah utara Amerika Serikat.
Hasil kajian menunjukkan temuan penting. Dari 17 studi yang meneliti sungai, 15 studi mencatat kenaikan kadar arsenik setelah kebakaran.
Bahkan, beberapa studi mencatat kenaikan yang sangat tinggi. Angkanya mencapai 300 persen hingga 34.900 persen pada lokasi tertentu.
Namun, setiap wilayah punya kondisi yang berbeda. Karena itu, tingkat kenaikan arsenik juga bisa berbeda.
Mengapa Arsenik Bisa Masuk ke Sungai?
Lantas, bagaimana karhutla bisa menaikkan kadar arsenik di sungai?
Saat api membakar hutan, banyak tanaman dan lapisan tanah ikut rusak. Padahal, tanaman membantu menahan air dan menjaga tanah tetap stabil.
Setelah itu, hujan bisa membawa abu dan tanah ke sungai. Air hujan juga dapat mengikis tanah dengan lebih cepat.
Selain itu, air hujan bisa membawa arsenik yang ada di tanah. Arsenik lalu masuk ke aliran sungai bersama tanah dan sedimen.
Karena itu, risiko pencemaran air tidak berhenti saat api padam. Hujan setelah kebakaran juga perlu mendapat perhatian.
Asap dan Abu Juga Perlu Diwaspadai
Arsenik tidak hanya bergerak lewat tanah dan air. Asap serta abu hasil kebakaran juga dapat membawa zat ini.
Saat kebakaran terjadi, abu bisa jatuh ke sungai, danau, atau sumber air lain. Selanjutnya, material itu dapat menambah beban pencemar di dalam air.
Karena itu, masyarakat perlu lebih hati-hati dengan sumber air di area bekas karhutla. Terlebih lagi, hujan deras dapat mempercepat aliran material dari tanah menuju sungai.
Ancaman Arsenik Bisa Bertahan Lama
Dampak karhutla juga tidak selalu selesai dalam hitungan hari. Beberapa studi mencatat kadar arsenik tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Bahkan, satu studi menemukan kadar arsenik masih tinggi hingga beberapa tahun setelah kebakaran.
Selain itu, area bekas tambang perlu mendapat perhatian khusus. Material dari area tambang bisa mengandung arsenik. Saat hujan turun, air dapat membawa material itu ke sungai.
Kebakaran juga bisa mengubah kondisi kimia arsenik dalam sedimen. Perubahan ini dapat membuat arsenik lebih mudah masuk ke air permukaan dan air tanah.
Kualitas Air Harus Dipantau
Temuan riset ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup dengan memadamkan api. Pemerintah juga perlu memantau kondisi tanah dan air setelah kebakaran.
Selain itu, petugas perlu mengecek sumber air yang berada dekat area karhutla. Langkah ini penting, terutama jika warga memakai sumber air itu untuk kebutuhan sehari-hari.
Masyarakat juga perlu berhati-hati. Jangan langsung memakai air dari sungai yang terdampak karhutla untuk minum atau memasak sebelum ada hasil uji kualitas air.
Dengan begitu, masyarakat bisa mengurangi risiko paparan arsenik. Penanganan karhutla pun tidak hanya fokus pada asap, tetapi juga menjaga kualitas air setelah api padam.
Baca Juga : DPR Terima Aspirasi AMPB, RUU Perampasan Aset Bakal Disahkan 15 Desember? Ini Komitmen Terbarunya
![]()








