Jakarta (Lensagram) – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menjadi sorotan. Asap bahkan meluas hingga ke wilayah Sarawak, Malaysia, dan membuat kualitas udara di sejumlah daerah memburuk.
Dampak tersebut terasa hingga Kuching dan beberapa wilayah lain di Sarawak. Pada 21 Agustus 2026, Kuching mencatat Indeks Pencemaran Udara (IPU) 186 atau masuk kategori tidak sehat. Sementara itu, Serian mencatat angka yang lebih tinggi, yakni 241 dan masuk kategori sangat tidak sehat.
Ratusan Sekolah di Sarawak Ditutup
Kondisi udara yang semakin buruk membuat pemerintah Sarawak mengambil langkah pencegahan. Sebanyak 591 sekolah di 10 wilayah diperintahkan tutup sementara selama dua hari mulai 20 Agustus 2026.
Sekolah yang terdampak berada di Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong. Kebijakan tersebut berdampak pada sekitar 197.323 siswa sekolah dasar dan menengah.
Meski sekolah ditutup, kegiatan belajar tidak sepenuhnya berhenti. Pemerintah mengalihkan proses pembelajaran ke rumah melalui sistem Pengajaran dan Pembelajaran dari Rumah (PdPR).
Dengan begitu, siswa tetap dapat mengikuti kegiatan akademik tanpa harus terpapar udara luar yang tidak sehat.
Asap Karhutla Melintasi Perbatasan
Kabut asap ini berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Asap kemudian terbawa angin hingga melintasi perbatasan dan memengaruhi kualitas udara di Sarawak.
Kondisi tersebut bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, sejumlah sekolah di Serian juga sempat ditutup ketika indeks pencemaran udara menembus kategori sangat tidak sehat. Pemerintah Sarawak menerapkan penutupan sekolah ketika API mencapai angka 200 sesuai rencana aksi penanganan kabut asap Malaysia.
Karena itu, pemerintah terus memantau perkembangan kualitas udara. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk.
Karhutla Jadi Perhatian Serius
Meluasnya asap hingga Malaysia menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan lokal. Dampaknya dapat menyeberang batas negara dan mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk pendidikan.
Selain itu, kualitas udara yang buruk juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat. Oleh sebab itu, penanganan karhutla perlu dilakukan secara cepat dan terpadu.
Pemerintah Indonesia dan Malaysia kini menghadapi tantangan yang sama, yaitu mengendalikan dampak kabut asap sekaligus mencegah kebakaran semakin meluas.
Dengan kondisi cuaca yang masih mendukung penyebaran api dan asap, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Di sisi lain, penegakan hukum terhadap pembakaran lahan juga menjadi langkah penting agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Baca Juga : Ada Apa dengan Karhutla di Kalimantan? DPR Minta Pemerintah Naikkan Status Jadi Prioritas Nasional
![]()











