Jakarta (Lensagram) — Presiden AS Donald Trump menolak tawaran damai Iran. Tawaran ini muncul saat konflik AS dan Iran masih panas.
Iran ingin buka lagi Selat Hormuz. Teheran juga ingin lanjutkan dialog nuklir dengan Washington.
Namun, Trump punya syarat lain. Ia ingin Iran memberi konsesi soal nuklir.
Trump Tolak Tawaran Damai Iran
Trump menolak tawaran Iran pada Sabtu, 26 September 2026. Iran kirim tawaran itu lewat Qatar.
Dalam tawaran itu, Iran siap buka Selat Hormuz dalam tujuh hari. Teheran juga siap lanjutkan dialog soal nuklir.
Sebagai ganti, Iran minta AS hentikan blokade laut. Iran juga minta AS cabut sanksi minyak.
Selain itu, Teheran ingin gencatan senjata di kawasan. Namun, Trump belum setuju dengan rencana itu.
Trump masih ingin capai kesepakatan dengan Iran. Akan tetapi, kedua pihak masih punya banyak beda sikap.
AS Minta Konsesi Nuklir Iran
Washington ingin Iran memberi konsesi soal nuklir. Isu ini kini jadi salah satu poin utama dalam dialog.
AS tidak hanya bahas Selat Hormuz. Washington juga fokus pada program nuklir Iran.
Pemerintah Trump ingin Iran punya batas yang jelas soal program nuklir. Karena itu, isu nuklir punya peran besar dalam dialog ini.
Di sisi lain, Iran belum mau ikut semua tuntutan AS. Teheran masih pegang sikap soal program nuklir.
Iran Tetap Pegang Sikap
Iran tidak mau memberi konsesi nuklir hanya demi buka Selat Hormuz. Teheran ingin AS lebih dulu kurangi tekanan.
Selain itu, Iran ingin AS cabut sanksi minyak. Teheran juga ingin AS hentikan blokade laut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi tetap dorong dialog. Ia menilai jalur diplomasi masih bisa cari jalan keluar.
Namun, Iran juga siap hadapi risiko jika konflik naik lagi. Jadi, Teheran kini ambil dua jalur.
Pertama, Iran tetap dorong dialog. Kedua, Iran siap hadapi konflik jika perlu.
Selat Hormuz Jadi Isu Penting
Selat Hormuz punya peran besar dalam pasar minyak dunia. Banyak kapal minyak lewat jalur ini.
Karena itu, konflik di sekitar Hormuz bisa ganggu pasar energi. Harga minyak pun bisa ikut naik.
Pasar kini terus pantau langkah AS dan Iran. Setiap kabar baru bisa picu gerak harga minyak.
Dengan begitu, konflik ini bukan hanya soal politik. Masalah ini juga bisa beri efek pada ekonomi dunia.
Diplomasi AS dan Iran Masih Jalan
Meski Trump menolak tawaran Iran, dialog belum berhenti. Qatar dan pihak lain masih bantu kedua pihak cari jalan tengah.
Kedua pihak juga masih bahas isu nuklir. Jadi, penolakan Trump belum tutup semua jalan damai.
Namun, jalan menuju kesepakatan masih panjang. AS ingin Iran beri konsesi nuklir.
Sebaliknya, Iran ingin AS lebih dulu kurangi tekanan. Beda sikap ini jadi salah satu hambatan utama.
Karena itu, dialog berikutnya akan jadi sorotan. Dunia akan lihat langkah baru dari Washington dan Teheran.
Apa Langkah Berikutnya?
Saat ini, Trump masih menolak tawaran damai Iran. Namun, AS belum tutup jalur dialog.
Iran juga masih mau bicara. Akan tetapi, Teheran tetap pegang syarat yang mereka ajukan.
Selat Hormuz akan jadi isu utama. Begitu juga sanksi minyak dan program nuklir.
Gencatan senjata juga masuk dalam agenda penting. Kedua pihak perlu cari titik temu untuk capai kesepakatan.
Sampai 28 September 2026, AS dan Iran belum capai kesepakatan akhir. Karena itu, perkembangan dialog masih jadi perhatian dunia.
Baca Juga : Lapas Cibinong Jadi Sorotan! Dugaan Klaster Mewah untuk Napi Berujung 5 Pejabat Dinonaktifkan
![]()











