Jakarta (Lensagram) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali jadi sorotan. Namun, masalah ini bukan hanya soal api dan asap.
Anggota Komisi IV DPR RI Rajiv menilai karhutla juga mengancam satwa dan tumbuhan langka. Karena itu, ia meminta pemerintah lebih serius menjaga alam saat menangani karhutla.
Menurut Rajiv, api dapat merusak hutan dan habitat satwa. Selain itu, kebakaran bisa menghilangkan sumber air dan pangan bagi hewan.
Karhutla Ancam Satwa Endemik
Kalimantan punya banyak satwa langka. Misalnya, ada orang utan, bekantan, dan burung rangkong.
Selain itu, Kalimantan juga punya banyak jenis tumbuhan khas. Pohon ulin dan sejumlah jenis anggrek menjadi bagian dari kekayaan alam di pulau ini.
Namun, karhutla bisa mengubah kondisi alam dengan cepat. Api dapat merusak rumah satwa dan sumber makan mereka.
Akibatnya, satwa yang selamat dari api tetap menghadapi masalah. Mereka bisa kehilangan tempat hidup. Bahkan, mereka bisa kesulitan mencari makanan dan air.
Karena itu, pemerintah perlu melihat dampak karhutla secara luas. Penanganan api harus berjalan bersama dengan upaya jaga satwa.
Satwa Bisa Keluar dari Hutan
Dampak karhutla tidak berhenti saat api padam.
Setelah hutan rusak, satwa bisa mencari tempat baru. Lalu, mereka dapat masuk ke kebun atau area warga.
Kondisi ini bisa memicu konflik antara satwa dan manusia. Oleh karena itu, warga perlu tahu cara menghadapi satwa yang keluar dari hutan.
Selain itu, tim terkait perlu memberi ruang aman bagi hewan. Dengan begitu, warga dan satwa bisa sama-sama terhindar dari risiko.
Kekayaan Genetik Ikut Terancam
Karhutla juga memberi ancaman bagi kekayaan genetik Indonesia.
Setiap satwa dan tumbuhan punya nilai bagi alam. Karena itu, hilangnya satu jenis dapat memberi dampak besar bagi ekosistem.
Rajiv pun meminta pemerintah melihat masalah ini dalam jangka panjang. Menurutnya, pemulihan hutan tidak cukup hanya dengan menanam pohon baru.
Selain pohon, rantai makan di hutan juga perlu pulih. Sumber air dan ruang hidup satwa juga harus kembali.
Namun, proses pemulihan alam tidak bisa berjalan dalam waktu singkat. Sebab itu, langkah cegah api harus menjadi prioritas.
DPR Minta Pemerintah Bergerak Cepat
Karena risiko terus ada, Rajiv meminta pemerintah memperkuat langkah cegah karhutla.
Pertama, petugas perlu segera mengecek titik panas. Lalu, mereka harus mencari sumber api.
Jika api masih kecil, petugas perlu bergerak cepat. Dengan begitu, api tidak mudah meluas.
Selain itu, pemerintah perlu menjaga area yang punya nilai hayati tinggi. Kawasan di luar area konservasi juga perlu mendapat perhatian.
Di sisi lain, pemerintah perlu mengajak warga ikut menjaga hutan. Pemegang usaha juga punya peran dalam mencegah api.
Dengan kerja sama itu, upaya cegah karhutla bisa berjalan lebih luas.
Perlindungan Satwa Harus Jadi Prioritas
Menurut Rajiv, perlindungan satwa perlu masuk dalam rencana penanganan karhutla.
Jadi, petugas tidak hanya fokus pada api dan asap. Mereka juga perlu melihat kondisi satwa di area yang terbakar.
Selain itu, tim perlu punya langkah darurat untuk satwa. Langkah ini dapat mencakup evakuasi, bantuan pakan, dan ruang aman.
Kemudian, pemerintah perlu menjaga jalur hidup satwa. Koridor alam dapat membantu hewan mencari ruang baru saat hutan rusak.
Dengan cara ini, satwa punya peluang untuk tetap hidup. Pada saat yang sama, pemerintah bisa mengurangi konflik dengan warga.
Karhutla Bukan Hanya Soal Asap
Selama ini, orang sering mengaitkan karhutla dengan asap. Namun, dampaknya jauh lebih luas.
Api juga merusak hutan dan tanah. Selain itu, karhutla mengancam satwa, tumbuhan, dan sumber air.
Karena itu, pemerintah perlu memperkuat langkah cegah. Penanganan tidak boleh hanya fokus saat api sudah besar.
Sementara itu, warga juga punya peran penting. Mereka dapat melapor jika melihat asap atau tanda api.
Di sisi lain, pihak usaha perlu menjaga area kerja mereka. Dengan begitu, semua pihak bisa ikut menekan risiko karhutla.
Masa Depan Satwa Ada di Tangan Kita
Karhutla memberi ancaman besar bagi alam Indonesia. Namun, kita masih bisa menekan dampaknya.
Pertama, pemerintah perlu mencegah api sejak awal. Kedua, petugas perlu bergerak cepat saat titik panas muncul.
Selain itu, pemerintah harus menjaga habitat satwa. Warga juga dapat ikut melapor saat melihat tanda kebakaran.
Dengan kerja bersama, hutan punya peluang untuk pulih. Satwa pun punya ruang untuk tetap hidup.
Oleh karena itu, penanganan karhutla harus berjalan secara menyeluruh. Pemerintah perlu menjaga hutan, satwa, dan kekayaan alam dalam satu langkah.
Baca Juga : Waktu Mepet, Revisi UU Pemilu Terancam Jadi Sorotan! Sengketa hingga Politik Uang Mengintai
![]()











