Jakarta (Lensagram) — Aktivitas influencer dan konten kreator di ruang publik kembali menjadi perhatian. Pasalnya, tidak sedikit kreator yang merekam suasana sekitar tanpa meminta izin kepada orang yang masuk ke dalam video.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang batas antara kreativitas dan privasi. Karena itu, pembahasan mengenai kode etik konten kreator mulai mendapat perhatian.
Rekam di Ruang Publik Tetap Perlu Etika
Ruang publik memang dapat digunakan masyarakat untuk beraktivitas dan membuat konten. Namun, hal itu bukan berarti setiap orang bebas merekam dan menyebarkan wajah atau aktivitas orang lain tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Terlebih, sebuah video dapat langsung menyebar melalui media sosial. Jika seseorang terlihat jelas dalam video, konten tersebut berpotensi memengaruhi privasi dan kenyamanan orang yang terekam.
Sebelumnya, pembahasan mengenai etika membuat konten di ruang publik juga sudah muncul dalam berbagai forum. Salah satunya menekankan pentingnya memahami batas privasi ketika kreator mengambil gambar di tempat umum.
Konten Kreator Diminta Lebih Bijak
Di sisi lain, membuat konten tetap menjadi bagian dari kebebasan berekspresi. Kreator juga memiliki ruang untuk menghasilkan karya yang menarik dan menghibur masyarakat.
Namun, kebebasan tersebut perlu berjalan bersama dengan tanggung jawab. Kreator sebaiknya mempertimbangkan siapa saja yang masuk ke dalam rekaman sebelum mengunggahnya ke media sosial.
Jika seseorang menjadi objek utama video, meminta izin dapat menjadi langkah yang lebih aman. Selain itu, kreator bisa menyamarkan wajah atau identitas orang yang tidak berkaitan langsung dengan konten.
Dengan begitu, kreativitas tetap berjalan tanpa mengabaikan hak orang lain.
Privasi Jadi Perhatian di Era Media Sosial
Persoalan privasi semakin penting karena konten digital dapat menyebar dengan sangat cepat. Sekali video diunggah, masyarakat dapat menyimpan, membagikan, atau mengunggahnya kembali ke berbagai platform.
RRI sebelumnya juga menyoroti pentingnya menjaga privasi di ruang publik. Dalam pembahasannya, masyarakat diingatkan agar lebih bijak menggunakan gawai serta meminta izin sebelum merekam dan membagikan informasi pribadi orang lain.
Selain itu, isu perlindungan data pribadi juga menjadi perhatian dalam aktivitas pembuatan konten. Rekaman di ruang publik dapat menangkap informasi yang membuat seseorang mudah dikenali. Karena itu, kreator perlu lebih berhati-hati ketika mengambil gambar di tempat umum.
Kode Etik Bisa Jadi Panduan
Munculnya perhatian terhadap kode etik konten kreator dinilai dapat menjadi langkah untuk membangun ekosistem digital yang lebih sehat. Kode etik tersebut nantinya dapat menjadi panduan mengenai cara merekam, meminta izin, menggunakan wajah orang lain, hingga mengunggah konten.
Namun, pembahasan kode etik sebaiknya tidak bertujuan membatasi kreativitas. Sebaliknya, aturan atau panduan tersebut dapat membantu kreator memahami batas yang perlu dihormati.
Pada akhirnya, konten yang menarik tidak hanya bergantung pada jumlah penonton. Konten juga perlu dibuat dengan mempertimbangkan etika dan kenyamanan orang lain.
Karena itu, influencer dan konten kreator perlu semakin sadar bahwa kamera bukan hanya alat untuk menghasilkan konten. Kamera juga membawa tanggung jawab ketika merekam kehidupan orang lain di ruang publik.
Baca Juga : Mengejutkan! KPK Usut Dugaan Suap dari Pihak Swasta ke Sejumlah Pejabat Ditjen Bea Cukai
![]()









