Jakarta (Lensagram) — Pemerintah resmi membatalkan rencana penerapan sekolah daring secara luas. Keputusan ini langsung menarik perhatian publik. Pasalnya, sebelumnya sistem pembelajaran online sempat dipertimbangkan sebagai solusi fleksibel di era digital.
Namun demikian, pemerintah menilai bahwa penerapan sekolah daring berisiko memicu learning loss atau penurunan kemampuan belajar siswa. Oleh karena itu, kebijakan tersebut akhirnya dihentikan sebelum benar-benar diterapkan.
Menurut sejumlah pihak, learning loss terjadi ketika siswa kehilangan kesempatan belajar secara optimal. Hal ini biasanya disebabkan oleh keterbatasan interaksi, kurangnya pengawasan, serta rendahnya akses teknologi di beberapa daerah. Akibatnya, kualitas pendidikan dikhawatirkan menurun jika sistem daring dipaksakan.
Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan kesiapan infrastruktur pendidikan di Indonesia. Meskipun teknologi terus berkembang, tidak semua wilayah memiliki akses internet yang memadai. Karena itu, penerapan sekolah online secara merata dinilai belum ideal.
Di sisi lain, banyak orang tua dan tenaga pendidik menyambut baik keputusan ini. Mereka menilai pembelajaran tatap muka masih menjadi metode paling efektif. Dengan demikian, siswa dapat berinteraksi langsung dengan guru dan teman-temannya, sehingga proses belajar menjadi lebih optimal.
Meski begitu, pemerintah tetap membuka peluang pemanfaatan teknologi dalam pendidikan. Ke depan, sistem pembelajaran akan menggabungkan metode tatap muka dengan dukungan digital. Dengan kata lain, pendekatan hybrid bisa menjadi solusi yang lebih seimbang.
Sebagai kesimpulan, pembatalan rencana sekolah daring bukan tanpa alasan. Pemerintah ingin memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga dan tidak mengorbankan perkembangan siswa. Oleh sebab itu, langkah ini diambil demi masa depan pendidikan yang lebih baik.
Baca Juga : Arus Balik Mulai ‘Menggila’! Ribuan Kendaraan Serbu Jonggol Menuju Jakarta
![]()











