Jakarta (Lensagram) – Kualitas udara di Jakarta kembali menjadi sorotan publik. Pada Selasa pagi (19/5/2026), ibu kota Indonesia dilaporkan masuk dalam daftar enam kota dengan udara terburuk di dunia. Kondisi ini langsung memicu kekhawatiran warga karena polusi udara dinilai semakin membahayakan kesehatan.
Berdasarkan data pemantauan kualitas udara internasional, tingkat polusi di Jakarta berada pada kategori tidak sehat. Bahkan, kabut tipis terlihat menyelimuti beberapa wilayah sejak pagi hari. Akibatnya, banyak warga mengeluhkan sesak napas, mata perih, hingga tenggorokan kering saat beraktivitas di luar ruangan.
Selain itu, tingginya polusi udara diduga berasal dari beberapa faktor. Mulai dari emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, hingga cuaca panas yang membuat polutan terjebak di atmosfer. Oleh karena itu, para ahli mengingatkan masyarakat agar lebih waspada, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Sementara itu, pemerintah daerah diminta segera mengambil langkah cepat untuk mengurangi tingkat polusi udara di Jakarta. Beberapa pihak mendorong pembatasan kendaraan pribadi, peningkatan transportasi umum, serta pengawasan ketat terhadap emisi industri.
Di sisi lain, warga juga dapat melakukan langkah pencegahan sederhana. Misalnya dengan memakai masker saat berada di luar rumah, memperbanyak konsumsi air putih, dan mengurangi aktivitas luar ruangan pada jam-jam tertentu.
Kondisi udara yang memburuk ini kembali menjadi pengingat bahwa masalah polusi di Jakarta belum terselesaikan sepenuhnya. Jika tidak segera ditangani, kualitas udara yang buruk dikhawatirkan akan berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Tips Mengurangi Dampak Polusi Udara
- Gunakan masker saat bepergian.
- Hindari aktivitas luar ruangan terlalu lama.
- Gunakan transportasi umum untuk mengurangi emisi.
- Perbanyak menanam pohon di lingkungan sekitar.
- Pantau kualitas udara secara berkala.
![]()











