Jakarta (Lensagram) – Seorang sopir angkot membuat heboh jagat maya setelah membandingkan gajinya dengan penghasilan anggota DPR yang mencapai Rp 100 juta per bulan. Aksi ini viral karena sopir tersebut hanya membawa pulang sekitar Rp 50.000 meski sudah bekerja seharian di jalan.
Sopir angkot itu mengaku bekerja sejak pagi hingga malam dengan kondisi panas, macet, dan penuh risiko. Namun, penghasilannya tidak sebanding dengan jerih payah yang ia keluarkan. “Kami kerja keras seharian, panas-panasan, tapi cuma dapat Rp 50 ribu. Sementara DPR terima Rp 100 juta per bulan. Sangat jomplang,” ujarnya dalam sebuah wawancara yang tersebar luas di media sosial.
Warganet langsung menanggapi pernyataan itu. Banyak yang prihatin dengan kondisi sopir angkot yang semakin tertekan oleh biaya hidup. Sebagian juga mengkritik besarnya gaji dan tunjangan DPR yang dianggap tidak seimbang dengan kerja nyata di lapangan.
Pengamat transportasi menilai perbandingan tersebut menggambarkan nyata kesenjangan sosial. Mereka mendorong pemerintah segera menyusun kebijakan yang berpihak pada pekerja sektor informal. “Jika kondisi ini terus berlanjut, profesi sopir angkot bisa makin terpinggirkan, padahal jasa mereka masih dibutuhkan,” jelas seorang pengamat.
Diskusi publik pun semakin ramai. Banyak pihak menilai sudah waktunya negara memperhatikan kesejahteraan pekerja kecil agar jurang ketimpangan tidak semakin melebar.
Keluhan sopir angkot yang viral ini akhirnya menjadi simbol perjuangan pekerja lapangan yang masih berjuang keras demi menghidupi keluarga, meski dengan penghasilan minim.