Jakarta (Lensagram) – Dunia pendidikan kembali dikejutkan dengan hadirnya konsep Kurikulum Sekolah Rakyat yang menawarkan sistem belajar fleksibel. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, kurikulum ini memungkinkan siswa memulai dan menyelesaikan studi kapan saja, mirip dengan sistem perkuliahan di universitas.
Inovasi ini dinilai sebagai terobosan besar dalam menjawab tantangan pendidikan di Indonesia, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu dan kesempatan. Dengan sistem fleksibel, siswa dapat mengatur ritme belajar sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing.
Baca Juga : 55.000 Penerima Bansos Dicopot Gus Ipul, 44.000 Lagi Terancam! Ada Nama Anda?
Selain itu, Sekolah Rakyat juga menghadirkan pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Artinya, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung menerapkan ke dalam praktik. Model ini dipercaya mampu meningkatkan keterampilan sekaligus membangun kepercayaan diri peserta didik.
Pakar pendidikan menilai, kurikulum ini dapat menjadi solusi bagi anak-anak yang sebelumnya sulit mengakses pendidikan formal. Dengan jadwal yang lebih terbuka, siswa bisa mengatur kapan mereka memulai hingga kapan mereka menyelesaikan jenjang tertentu.
Namun, wacana ini juga menuai perdebatan. Beberapa pihak mempertanyakan kesiapan tenaga pendidik, standar penilaian, serta efektivitas sistem dalam membentuk disiplin siswa. Meski begitu, pemerintah dan pengelola Sekolah Rakyat optimistis bahwa konsep ini akan membawa perubahan positif dalam dunia pendidikan Indonesia.
Ke depan, jika sistem ini berhasil diimplementasikan secara luas, bukan tidak mungkin Sekolah Rakyat akan menjadi model pendidikan baru yang lebih inklusif, fleksibel, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Baca Juga : Cuti Bersama 18 Agustus: Kok Nggak Semua Dapat? Ini Penjelasan yang Bikin Kaget!