Jakarta (Lensagram) – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menembus Rp 16.500 pada perdagangan siang ini. Lonjakan tersebut membuat rupiah tertekan cukup dalam dan memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Pergerakan dolar AS yang terus menguat terjadi sejak awal pekan. Hingga siang ini, kurs rupiah di pasar spot melemah signifikan dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh sentimen global, mulai dari kebijakan suku bunga The Fed hingga ketidakpastian ekonomi internasional.
Baca Juga : Sindiran Pedas Prabowo ke Para Bupati: ‘Stop Pencitraan, Fokus Kerja!’
Menurut pengamat pasar uang, pelemahan rupiah yang menembus level Rp 16.500 menunjukkan adanya tekanan besar dari faktor eksternal. Namun, Bank Indonesia disebut masih memiliki instrumen yang cukup kuat untuk menahan gejolak lebih dalam.
Selain faktor global, kebutuhan impor dalam negeri juga ikut menambah permintaan dolar. Sektor industri yang masih bergantung pada bahan baku impor menjadi salah satu penyebab tingginya kebutuhan terhadap mata uang asing tersebut.
Akibat kondisi ini, masyarakat diimbau tetap tenang dan bijak dalam mengelola keuangan. Fluktuasi nilai tukar adalah hal yang wajar, meskipun kali ini rupiah mengalami tekanan cukup berat. Pemerintah juga menegaskan akan terus berupaya menjaga stabilitas melalui berbagai kebijakan fiskal dan moneter.
Meski rupiah tengah tertekan, peluang pemulihan masih terbuka. Jika kondisi global mulai mereda dan investor kembali percaya terhadap pasar Indonesia, nilai tukar bisa kembali menguat.
Baca Juga : Ribuan Massa Padati Sudirman hingga Kwitang! Jakarta Siang Ini Macet Parah!