Jakarta (Lensagram) — Isu kebijakan work from home (WFH) kembali mencuat pada 20 Maret 2026. Pemerintah dikabarkan tengah mengkaji penerapan WFH sebagai langkah strategis untuk menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Lalu, benarkah kebijakan ini akan segera diberlakukan?
WFH Jadi Solusi Hemat BBM
Dalam beberapa waktu terakhir, konsumsi BBM mengalami peningkatan, terutama di kota-kota besar. Oleh karena itu, pemerintah mulai mempertimbangkan kebijakan WFH untuk mengurangi mobilitas harian masyarakat.
Selain itu, dengan berkurangnya aktivitas perjalanan ke kantor, penggunaan kendaraan pribadi maupun transportasi umum diharapkan ikut menurun. Dengan demikian, konsumsi BBM nasional bisa ditekan secara signifikan.
Pemerintah Masih Dalam Tahap Kajian
Meski isu ini ramai dibicarakan, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan WFH masih dalam tahap pembahasan. Sejumlah kementerian terkait saat ini sedang melakukan evaluasi menyeluruh.
Belajar dari Pengalaman Sebelumnya
Sebagai informasi, kebijakan WFH pernah diterapkan secara luas saat pandemi COVID-19. Saat itu, mobilitas masyarakat menurun drastis dan konsumsi BBM ikut terkendali.
Namun demikian, ada pula tantangan yang muncul, seperti kendala komunikasi, penurunan efektivitas kerja di beberapa sektor, serta keterbatasan infrastruktur digital di daerah tertentu.
Potensi Penerapan Bertahap
Jika kebijakan ini benar diterapkan, pemerintah kemungkinan akan memberlakukannya secara bertahap. Misalnya, hanya untuk instansi tertentu atau wilayah dengan tingkat kemacetan tinggi.
Selain itu, perusahaan swasta juga bisa diberikan fleksibilitas untuk menyesuaikan kebijakan sesuai kebutuhan operasional mereka.
Kesimpulan
Singkatnya, kebijakan WFH demi menghemat BBM memang sedang dikaji, tetapi belum resmi diberlakukan. Oleh sebab itu, masyarakat dan pekerja diimbau untuk tetap mengikuti informasi terbaru dari pemerintah.
Dengan adanya kebijakan yang tepat, diharapkan efisiensi energi bisa tercapai tanpa mengganggu produktivitas kerja.
![]()












