Jakarta ( Lensagram ) – Suasana politik ibu kota kembali memanas. Dua tokoh publik, Pramono Anung dan Dedi Mulyadi, saling melontarkan sindiran tajam soal dua isu klasik Jakarta: macet dan banjir. Ucapan keduanya sontak menyita perhatian publik dan viral di berbagai media sosial sejak, Jumat, 11 Juli 2025.
Dimulai dari Kritik Soal Kemacetan
Pramono, yang kini aktif sebagai penasihat kebijakan transportasi DKI Jakarta, menyampaikan kritik dalam sebuah forum terbuka. Ia menyebut bahwa program penataan lalu lintas di Jakarta belum menyentuh akar masalah.
“Jangan hanya menambah rambu, tapi biarkan masyarakat tahu ke mana arah kebijakan. Kalau semua masih macet, berarti ada yang tidak jalan,” ujar Pramono dengan nada serius.
Pernyataan ini disambut sorakan dari peserta forum, yang tampaknya merasakan langsung dampak kemacetan harian di ibu kota.
Dedi Mulyadi Tak Tinggal Diam
Tak lama setelah pernyataan itu beredar, Dedi Mulyadi merespons melalui akun media sosial resminya. Dalam unggahannya, ia menyindir balik dengan menyebut bahwa “yang dulu duduk di pemerintahan juga tak mampu mengatasi banjir”.
“Jangan cuma bicara sekarang macet. Dulu waktu punya kuasa, banjir pun tak bisa diatasi. Sekarang kok seperti paling tahu segalanya?” tulis Dedi dalam unggahan X (dulu Twitter)-nya yang langsung dibanjiri komentar netizen.
Baca Juga : Wajah di KTP Terlihat ‘Hilang’? Ini Tanggapan Mengejutkan dari Dukcapil!
Publik Terbelah, Netizen Ramaikan Perdebatan
Komentar tajam kedua tokoh ini langsung viral. Tagar #PramonoVsDedi dan #JakartaMacetBanjir menduduki trending topic di X pada Jumat sore. Banyak netizen yang ikut bersuara, bahkan menyandingkan data penanganan macet dan banjir dari era keduanya.
Sebagian mendukung Pramono karena mengangkat isu penting, sementara lainnya menilai Dedi lebih realistis dalam menanggapi sindiran.
Masih Akan Berlanjut?
Meski keduanya belum saling bertemu secara langsung, publik menduga polemik ini akan terus berlanjut. Apalagi menjelang agenda revisi kebijakan transportasi dan lingkungan Jakarta yang akan dibahas pekan depan.
Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Dr. Lisa Anggraini, menilai ini bukan sekadar sindiran personal, tapi bagian dari narasi politik menjelang Pilkada DKI.
“Ini bukan hanya debat soal banjir dan macet. Ini soal positioning politik, dan publik harus cermat membaca maksud di balik ucapannya,” kata Lisa.
Kesimpulan
Sindiran antara Pramono dan Dedi membuka kembali diskusi publik tentang masalah klasik Jakarta. Walau berbalut sindiran, percakapan ini mencerminkan keresahan warga terhadap kebijakan kota yang belum sepenuhnya tuntas. Yang pasti, publik kini menunggu aksi nyata, bukan sekadar sindiran panas.
Baca Juga : Sekolah Rakyat Dibuka, Ribuan Siswa Daftar! Ternyata Ini Alasan Mengejutkannya!