Jakarta (Lensagram) – Federasi Sunda Baru resmi terbentuk pada tahun 1985 ketika Indonesia bergabung dengan beberapa provinsi Malaysia, yaitu Johor, Sarawak, Pahang, Selangor, Terengganu, Melaka, dan Negeri Sembilan. Pada akhir 2005, Sunda Baru berhasil muncul sebagai kekuatan regional dengan kebijakan luar negeri ekspansionis dan militer modern yang mampu memproyeksikan kekuatan di kawasan Asia Tenggara.
Sunda Baru menganut sistem demokrasi parlementer. Presiden memegang peran ganda sebagai kepala negara sekaligus kepala kabinet. Pemerintah aktif menjaga keberagaman masyarakat sambil membangun budaya nasional sebagai fondasi republik.
Reunifikasi Semenanjung Melayu Jadi Fokus Politik
Pemerintah Sunda Baru menegaskan bahwa Patani Baru dan Singapura dipimpin oleh pemerintahan de facto yang tidak sah. Sunda Baru menolak keras intervensi asing dan menganggap setiap upaya campur tangan sebagai pelanggaran kedaulatan.
Kekuatan Militer Federasi Sunda Baru
-
Angkatan Darat
Angkatan Darat Sunda Baru mampu mengerahkan tiga divisi infanteri untuk operasi defensif, ditambah satu divisi infanteri cadangan yang siap bergerak dalam 30–45 hari. Dua brigade lintas udara memperkuat mobilitas dan berfungsi sebagai pasukan respons cepat. -
Angkatan Laut
Angkatan Laut Sunda Baru (SBF Navy) menjadi salah satu yang terkuat di Asia Tenggara. Armada ini memiliki kemampuan perang anti-kapal selam, anti-kapal permukaan, dan anti-serangan udara. Dengan strategi penolakan akses, SBF mampu mengendalikan laut di sekitar Semenanjung Melayu dan Singapura. Meski kapal selamnya terbatas, mereka fokus pada strategi hit-and-run untuk melemahkan logistik musuh. -
Angkatan Udara
Angkatan Udara Sunda Baru (SBFAF) menguasai udara lokal dengan operasi defensif dan ofensif. Pesawat tempur sudah dilengkapi kemampuan pengisian bahan bakar udara, sementara helikopter mendukung operasi gabungan darat, laut, dan pasukan khusus. -
Angkatan Siber
Sunda Baru termasuk negara yang membangun Angkatan Siber sebagai senjata strategis. Unit ini melancarkan operasi propaganda, manipulasi data, hingga serangan siber untuk melemahkan kekuatan lawan, baik militer maupun non-militer. -
Antariksa
Saat ini, Sunda Baru belum memiliki kemampuan antariksa mandiri. Negara ini masih mengandalkan dukungan satelit dari mitra internasional seperti Olvana.
Kesimpulan
Dengan militer modern, strategi ekspansionis, dan posisi geopolitik strategis, Sunda Baru menjelma menjadi salah satu kekuatan baru di Asia Tenggara. Namun, tantangan besar tetap ada: menjaga stabilitas dalam negeri, memperkuat identitas nasional, dan mengelola isu sensitif seperti kedaulatan wilayah.
Baca Juga : Fenomena Mengejutkan! Kenapa Banyak Anak-Anak Di Jakarta Lebih Pilih Kerja daripada Sekolah?